Felicia menatap lurus ke depan, ke arah rumah megah yang kian membesar di balik kaca mobil. Lampu-lampu taman yang berjajar di sepanjang jalan masuk menyala temaram, memantulkan warna keemasan di permukaan batu basah sisa hujan sore tadi. Dari kejauhan, bangunan itu tampak seperti istana yang berdiri angkuh di tengah malam. Bangunan itu megah, terang, dan dingin pada saat yang sama.Mobil yang dikendarai Bojes melambat, lalu berhenti mulus di kanopi beton berlangitkan lampu kristal. Felicia menunduk. Wilona masih tertidur pulas di pelukannya, pipinya menempel di dada sang ibu dengan napas kecil yang teratur. Jemari Felicia bergerak pelan, menyibak anak rambut yang menempel di dahi putrinya.Begitu mobil berhenti di area carport, Bu Lastri yang tak lain adalah pengasuh Wilona yang sudah bekerja bertahun-tahun di sana, segera bergegas mendekat. Wajah wanita paruh baya itu tampak lega melihat mereka kembali. “Nyonya, selamat datang. Biar saya bawa Nona Wilona ke kamar,” ucapnya pelan,
Read more