Begitu serangan itu tertahan, Lucien tidak berani membuang waktu. Ia langsung mengaktifkan Shadowflash Steps, melesat menuju puncak menara bak bayangan.Namun, baru setengah perjalanan, ratusan Sword Aura kembali melesat ke arahnya, disertai suara siulan tajam yang memekakkan telinga.Tatapan Lucien menajam. Dari sudut matanya, ia melihat Sword Aura yang tak terhitung jumlahnya meluncur dari kedua sisi, serapat hujan deras.Seluruh anak tangga tertutup oleh Sword Aura, membuatnya tidak memiliki jalan untuk mundur.Dalam sekejap, bulu kuduk Lucien berdiri. Napasnya terasa sesak, sementara keringat dingin mengalir di dahinya. Perasaan dikepung ratusan Sword Aura itu benar-benar seperti berada di ambang kematian.Pada saat yang menentukan antara hidup dan mati itu, bekas tebasan pedang berwarna merah darah di antara alis Lucien tiba-tiba bersinar terang.Seketika, seluruh Sword Aura yang semula meraung ganas berhenti di udara, hanya beberapa inci dari tubuh Lucien, seolah-olah merasakan
Read more