Satu tahun kemudian, nama Arischa Maheswari bukan lagi sekadar nama belakang seorang konglomerat. Di Paris, London, dan New York, orang mengenal "Arischa" sebagai kurator visioner yang mampu menggabungkan teknologi AI dengan perasaan manusia yang paling mentah. Namun bagi Arischa, kemasyhuran itu hanyalah bonus dari hobinya yang kini menghasilkan uang triliunan. Ia kini berdiri di balkon apartemen penthouse-nya di Singapura, memandang kapal-kapal kargo di kejauhan. Pintu lift pribadi berdenting, dan aroma parfum maskulin yang familiar masuk sebelum sosoknya terlihat. "Kamu terlambat lima menit, Adrian," ucap Arischa tanpa berbalik. Adrian masuk dengan santai, tidak lagi mengenakan jas kaku, melainkan kemeja kasual yang kancing atasnya terbuka. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak kayu kecil. "Rapat di Jakarta sedikit memanas. Xavier mulai menunjukkan taringnya, dia hampir saja mendepak tiga direktur lama yang tidak becus hari ini." Arischa berbalik, menyilangkan tangan di dad
Terakhir Diperbarui : 2026-05-28 Baca selengkapnya