Tiga hari sejak pagar seng raksasa itu berdiri, toko "Amerta Green" benar-benar seperti kuburan. Tidak ada satu pun pelanggan yang datang karena dari luar jalan raya, tempat itu terlihat seperti lahan kosong yang sedang digusur. Ghea menatap tumpukan pembukuan tokonya yang kosong melompong minggu ini. Kalau begini terus bahkan sebelum dua minggu, dia sudah mati kelaparan duluan. "Kamu pikir kamu sudah menang, Arga?" Ucap Ghea sambil menatap kartu nama firma arsitektur milik Arga yang sempat ia temukan terselip di map dokumen tempo hari. Dirgantara Landscape & Architecture. Sebuah kantor mentereng di pusat kota. Ghea menyambar tas kainnya, memakai jaket denim kesayangannya lalu melangkah keluar dia tidak akan membiarkan iblis itu mencekik bisnisnya pelan-pelan, dia akan menuntut haknya langsung di sarang pria itu. Kantor Dirgantara Landscape & Architecture, tempat ini serba putih, minimalis, dingin, dan dipenuhi orang-orang berpakaian rapi yang berjalan terburu-buru. "
最後更新 : 2026-05-17 閱讀更多