LOGINKisah tentang dua orang yang saling membenci, terjebak di antara proyek penggusuran dan kenangan masa lalu, yang akhirnya terpaksa menyadari bahwa meruntuhkan dinding pembatas jauh lebih mudah daripada menahan benih cinta yang telanjur tumbuh.
View MoreAroma tanah basah dan kesegaran daun-daun hijau yang biasanya menjadi penenang terbaik bagi ghea hari ini sama sekali tidak berfungsi. Di sudut toko tanaman hias "Amerta Green" yang asri namun mulai sepi, dia duduk bersimpuh di lantai semen, kedua lututnya ditekuk menyembunyikan wajahnya yang sudah sembap karena tangis yang pecah sejak satu jam lalu.
Di genggamannya, selembar kertas putih berlogo firma hukum besar mengenai perintah pengosongan lahan yang sudah diremuk oleh ghea. "Ibu... Aku harus gimana?" bisiknya lirih, menatap satu pot bunga Lily putih di dekatnya tanaman kesayangan almarhum ibunya yang selalu ia rawat seperti jimat keberuntungan. Toko ini adalah seluruh sisa kenangan tentang ibunya, kehilangan tempat ini sama saja dengan kehilangan separuh jiwanya. *Kring!* Suara lonceng angin di pintu masuk toko berdenting keras. ghea tersentak, belum sempat ia menghapus air matanya dengan sempurna, langkah sepatu pantofel yang tegas terdengar mendekat. Seorang pria dengan kemeja hitam yang lengannya digulung rapi hingga siku berdiri di ambang pintu. Postur tubuhnya tinggi, rahangnya tegas, dan sepasang matanya menatap sekeliling toko dengan pandangan menilai yang sangat dingin. Dia adalah Arga Dirgantara. Arsitek utama yang disewa untuk melenyapkan tempat ini. "Selamat sore. Dengan Saudari Ghea Kirana?" suara Arga terdengar berat, datar, dan tanpa emosi. Ghea bangkit berdiri, menatap pria asing itu dengan sisa air mata di pipinya, tapi matanya menyala penuh defensif. "Iya, saya sendiri. Ada keperluan apa?" Arga melangkah maju, tanpa basa-basi ia mengeluarkan sebuah dokumen dari map kulitnya. "Saya Arga, arsitek lanskap dari tim pengembang. Saya datang untuk meninjau lokasi sekaligus memastikan Anda sudah membaca surat peringatan terakhir. Lahan ini harus dikosongkan dalam waktu dua minggu karena proyek pembangunan kafe modern akan segera dimulai." Mendengar kalimat yang begitu kasual keluar dari mulut Arga, dada Ghea rasanya sesak luar biasa. Rasa sedihnya instan berubah menjadi amarah yang membakar. "Dua minggu?!" suara Ghea meninggi, gemetar karena menahan emosi. "Anda pikir memindahkan ratusan makhluk hidup di toko ini sama seperti memindahkan tumpukan batu bata? Tempat ini punya sejarah, punya jiwa! Anda tidak bisa datang begitu saja dan mengusir saya!" Arga menatap Ghea flat, seolah kemarahan gadis di depannya hanyalah angin lalu. "Secara hukum, masa sewa lahan ini sudah habis bulan lalu, dan pemilik tanah sudah menjualnya kepada klien kami. Berteriak pada saya tidak akan mengubah fakta kalau toko kecil yang hampir bangkrut ini memang harus digusur, Saudari Ghea. Ini murni bisnis." "Murni bisnis?!" Ghea tertawa sarkas, air matanya menetes lagi, kali ini karena murka. "Bagi orang kota egois seperti Anda, ini mungkin cuma bisnis dan angka-angka di atas kertas. Tapi bagi saya, ini hidup saya! Pergi dari sini!" "Saya hanya menjalankan tugas profesional saya-" "SAYA BILANG PERGI!" Napas Ghea memburu. Gengsinya runtuh berganti nekat. Tepat di sampingnya, ada sebuah ember plastik kecil berisi air sisa siraman bunga sore tadi. Tanpa pikir panjang, Ghea meraih ember itu dan melemparkan seluruh isinya tepat ke arah Arga. *BYUURRR!* Air dingin bercampur sedikit sisa pupuk organik sukses membasahi bagian depan kemeja hitam mahal Arga, bahkan beberapa tetesnya mengenai wajah tegas pria itu. Suasana toko langsung hening seketika. Hanya terdengar suara rintik gerimis di luar. Arga memejamkan matanya perlahan. Rahangnya mengeras, menahan kejutan sekaligus amarah yang luar biasa. Saat ia membuka mata, tatapannya begitu tajam, sedingin es. Ia mengusap air di wajahnya lalu menatap Ghea yang berdiri gemetar sambil memegang ember kosong nampak ketakutan dengan apa yang baru saja ia lakukan "Tindakan impulsif yang sangat tidak profesional," ucap Arga, suaranya sangat rendah dan penuh penekanan yang mengintimidasi. Arga merapikan kemejanya yang basah lalu berbalik. Di ambang pintu, dia berhenti sejenak tanpa menoleh. "Nikmati sisa waktu dua minggumu, Ghea. Karena tempat ini tetap akan rata dengan tanah." Lonceng pintu kembali berdenting keras seiring langkah lebar Arga yang menembus gerimis sore. *Prang!* Ember plastik di genggamannya terlepas, membentur lantai semen dengan nyaring, rasa marahnya yang meledak-ledak tadi digantikan oleh rasa takut yang mendadak mencekik leher. "Ghea, apa yang kamu lakukan..." bisiknya pada diri sendiri dengan suara parau. Dia baru saja menyiram seorang arsitek utama dari perusahaan pengembang besar dengan air bekas pupuk organik. Alih-alih menyelamatkan toko peninggalan ibunya, tindakan impulsifnya tadi justru bisa menjadi senjata bagi Arga untuk menendangnya dari lahan ini lebih cepat. Ghea duduk bersandar pada meja kasir kayu sambil memeluk kedua lututnya. Isak tangisnya kembali pecah di tengah suara badai hujan yang mulai memukul atap seng toko. Sementara itu, di dalam mobil hitam yang melaju di jalanan kota. Arga mencengkeram kemudi dengan sangat erat, menahan amarah yang rasanya siap meledak kapan saja. Bau samar pupuk organik yang menempel di kemeja hitam mahalnya benar-benar merusak seluruh harinya. Sepanjang kariernya sebagai arsitek lanskap, Arga selalu didekati dengan rasa hormat oleh klien-klien kelas atas. Belum pernah ada satu orang pun, terutama seorang gadis pemilik toko tanaman yang keras kepala, berani memperlakukannya sekasar ini. Keesokan harinya, Ghea mengira hari buruknya telah selesai. Namun dia salah besar. Baru saja Ghea membuka gerbang toko menjelang siang, sebuah truk tronton besar tiba-tiba berhenti tepat di depan toko "Amerta Green". Beberapa pekerja berkaos proyek turun dan langsung memasang pagar pembatas seng raksasa tepat di depan halaman tokonya. Pagar itu tinggi menjulang, menutup akses jalan masuk dan membuat toko tanaman Ghea benar-benar tidak terlihat dari pinggir jalan raya. Ghea panik dan langsung berlari keluar. "Permisi! Pak! Ini maksudnya apa ya? Kenapa dipasang pagar di depan toko saya?!" "Perintah dari arsitek utama, Mbak. Katanya proyek pembersihan lahan sisi depan dimulai hari ini," jawab salah satu pekerja dengan santai. Di saat Ghea sedang melongo shock, sebuah mobil sedan mewah berhenti di seberang jalan. Kaca mobilnya turun perlahan, menampilkan sosok Arga yang memakai kemeja abu-abu rapi, pria tersebut menatap Ghea dari kejauhan dengan senyum tipis yang amat sangat sinis seperti sebuah senyuman kemenangan. Ghea mengepalkan tinjunya kuat-kuat, dadanya naik turun karena murka. Arga sengaja menutup akses tokonya agar tidak ada pelanggan yang bisa datang, sebuah cara kotor untuk membunuh tokonya secara perlahan sebelum masa dua minggu itu habis. Arga menaikkan kembali kaca mobilnya dan melesat pergi begitu saja meninggalkan Ghea yang berdiri gemetar di tepi jalan di balik pagar seng yang kokoh. "Arga Dirgantara... kamu benar-benar seorang iblis!" desis Ghea dengan mata yang menyala penuh dendam.Dua hari sejak kejadian itu, Ghea tidak lagi menapakkan kakinya di tanah Amerta Green. Semua barang pribadinya yang selamat sudah dikemas ke dalam satu koper besar. Ghea memutuskan untuk pergi jauh, pulang ke rumah Bude, kakak perempuan almarhum ibunya yang tinggal di Magelang. Baginya, menetap di kota ini hanya akan terus melukai hatinya dengan ingatan tentang toko tanamannya yang hancur dan tentang pria yang hampir saja sempat ia cintai.Kini, Ghea sudah duduk di kursi ruang tunggu bandara, suara riuh pengumuman jadwal penerbangan saling bersahutan di atas kepalanya. Riuh akan tetapi hati Ghea terasa begitu sunyi.Ghea meraba ponsel di genggamannya. Ibu jari gadis itu bergerak ragu di atas layar membuka ruang obrolannya dengan Arga yang sudah dua hari ini sengaja ia abaikan pesannya. Ghea tahu, dia tidak akan bisa pergi dengan tenang jika belum menyelesaikan bab terakhir di antara mereka.Sambil menahan sesak di dadanya, Ghea mulai mengeti
Matahari pagi baru saja terbit namun bagi Ghea, tidak ada lagi keindahan yang tersisa dari semburat sinarnya. Dia duduk di teras warung Bu Retno, menatap kosong ke arah halaman Amerta Green yang kini hanya berupa tanah merah berantakan dengan serpihan kayu dan daun-daun mati yang mengering. Mata Ghea bengkak akibat menangis semalaman dan jiwanya rasanya sudah kosong melompong. *Ckit!* Suara rem mobil yang tergesa-gesa terdengar. Arga turun dengan penampilan yang sangat berantakan. Dia tidak tidur semalaman demi menyelesaikan semuanya. Arga melangkah cepat menghampiri Ghea, tanpa basa-basi dia meletakkan sebuah map dokumen tebal dan sebuah rekaman tablet di atas meja depan Ghea. "Ghea, lihat ini" ucap Arga, napasnya sedikit memburu. "Ini bukti rekaman CCTV jalan raya dan surat pernyataan bermaterai dari operator ekskavator kemarin, pemilik lahan sewa lamamu yang membayar mereka secara ilegal demi mempercepat pengosongan secara paksa dia memanfaatkan celah." Arga menatap
Seminggu setelah makan malam itu dunia Ghea rasanya berubah seratus delapan puluh derajat, kehadiran Arga di Amerta Green bukan lagi sebagai ancaman melainkan sesuatu yang selalu Ghea tunggu setiap harinya. Pria itu sering mampir sore-sore, terkadang hanya untuk duduk di kursi kasir sambil memperhatikan Ghea bekerja atau benar-benar menepati janjinya untuk belajar merawat bunga Lily putih. Ghea bahkan mulai terbiasa dengan gaya bicara Arga yang kaku tapi diam-diam perhatian.Siang itu, cuaca kota sangat cerah. Ghea sedang berada di pasar induk tanaman yang jaraknya sekitar satu jam dari toko untuk menyetok beberapa pupuk dan bibit bunga baru. Hatinya berbunga-bunga dia berniat memberikan sebuah kaktus sukulen kecil yang estetik untuk ditaruh di meja kerja Arga sebagai kejutan nanti sore.Namun, saat Ghea sedang memilih pot, ponsel di saku celananya bergetar hebat. Sebuah panggilan telepon dari Bu Retno, pemilik warung kelontong di sebelah tokonya.Ghea menggeser
Kicau burung yang saling bersahutan di balik pagar seng perlahan membangunkan Ghea dari tidur nyenyaknya. Dia membuka matanya, menghalau silau cahaya matahari pagi yang menerobos masuk lewat celah-celah kaca toko.Ghea meregangkan otot lehernya yang terasa agak kaku lalu ingatan tentang kejadian semalam mendadak berputar di kepalanya. Sontak, Ghea langsung menegakkan tubuh dan menoleh ke arah meja kasir.Kursi kayu itu sudah kosong, lilin di atas meja telah mati menyisakan lelehan lilin yang membeku. Ghea buru-buru menyibak selimutnya dan berdiri."Arga?" panggil Ghea, mengedarkan pandangan ke sekeliling toko yang sepi. "Sudah pulang, ya?"Ghea berjalan mendekati meja kasir. Di atas permukaan meja kaca tersebut, segelas teh manis yang semalam disajikannya sudah bersih dan di sampingnya terselip selembar kertas catatan kecil dari robekan buku agenda dengan tulisan tangan yang sangat rapi *Sinyal sudah kembali. Saya harus ke kantor pagi-pagi karena ada






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.