로그인Kinara Wirawan selalu menghindari pernikahan. Trauma melihat kehidupan sepupunya hancur karena rumah tangga yang gagal membuat Rara tidak pernah percaya pada cinta, apalagi perjodohan. Namun ketika kedua orang tuanya memberikan ultimatum untuk membawa pacar atau menerima perjodohan, Rara nekat meminta bantuan sahabat masa kecilnya. Satya Mahendra. CEO muda yang tampan, kaya, dan terkenal dingin. Rencananya sederhana, yaitu berpura-pura pacaran sampai kedua orang tuanya membatalkan perjodohan. Sayangnya, takdir punya rencana lain. Di malam saat Rara memperkenalkan Satya sebagai pacar palsunya, ia baru mengetahui bahwa ternyata, Satya adalah pria yang selama ini ingin dijodohkan dengannya.
더 보기“Kalau kamu memang sudah punya pacar, bawa dia pulang minggu depan! Kalau tidak, kamu harus terima perjodohan yang Papa dan Mama atur!”
Menatap layar ponselnya yang sudah gelap, Rara menggeram penuh frustrasi lalu menenggelamkan wajahnya ke dalam lipatan lengannya di atas meja. ‘Yang benar saja!’ jeritnya dalam hati. Kinara Wirawan sama sekali tidak menyangka akan tiba hari seperti ini. Hari di mana kedua orang tuanya memaksanya untuk menikah. Semua hanya karena dia sudah berusia dua puluh delapan tahun, tetapi tidak pernah sebelumnya berhubungan dengan seorang pria. Kesal karena terus dipaksa bertemu pria-pria yang dijadikan calon oleh kedua orang tuanya, dalam perdebatan terakhir, perempuan yang akrab dipanggil Rara itu mengaku sudah memiliki pacar. Namun, karena pernyataan itu, ayahnya justru memberinya ultimatum untuk membawa sang kekasih ke acara makan malam keluarga. Masalahnya ... bagaimana bisa Rara membawa pacarnya, kalau pria itu bahkan sebenarnya tidak pernah ada? Itu semua hanya kebohongan Rara belaka. "Ra, kamu nggak apa-apa?" Rara tersentak, lalu mengangkat kepalanya dari meja. Dia melihat Dina, rekan kerja sekaligus sahabat baiknya di kantor, menatapnya dari bilik sebelah dengan wajah khawatir. Rara meluruskan punggungnya dan tersenyum canggung. “Oh, eh ... nggak apa-apa kok, Din.” Seolah tidak percaya temannya itu baik-baik saja, Dina kembali bertanya, “Kenapa, Ra? Cerita aja, kali, kayak sama siapa aja.” “Bukan apa-apa, cuma ... orang tuaku." Mata Dina langsung berbinar paham. “Ah ... kayaknya aku paham. Kenapa? Mereka memaksamu ikut perjodohan lagi?” Rara merengek, lalu memeluk Dina erat. "Kenapa mereka begini sama aku, Din? Aku tahu aku hampir tiga puluh tahun, tapi ini sudah tahun berapa? Kenapa pakai acara jodoh-jodohan segala?! Perempuan itu harusnya membangun karir dulu sebelum masuk ke pernikahan! Nanti kalau ditindas suami sendiri, gimana?" Dina tersenyum tipis dan menepuk punggung Rara. “Sayang, kalau ini keluar dari mulut orang lain, aku mungkin setuju. Tapi ini keluar dari mulutmu, yang sudah jadi top project manager di perusahaan ini. Jadi nggak masuk hitungan.” Rara melepaskan pelukan dan cemberut. “Hmph! Kamu nggak membantu!” Dina menghela napas, lalu menatap Rara yang masih cemberut selagi berusaha kembali mengerjakan tugasnya. “Kamu masih takut nikah karena Kak Karina?” Sontak, Rara membeku. Karina adalah nama sepupu Rara yang dulu sangat dekat dengannya. Perempuan yang ceria, mandiri, dan punya karir cemerlang sebagai marketing manager di perusahaan multinasional. Akan tetapi ... semuanya berubah saat Karina menikah dan berujung dikhianati suaminya saat sedang mengandung. Karena kejadian itu, Karina sampai kehilangan bayi dalam kandungannya dan berakhir seperti orang yang setengah tidak waras. Seorang wanita cemerlang dengan masa depan cerah ... hancur begitu saja karena pernikahan yang gagal. Bukankah itu terlalu menyeramkan? “Ya, Kak Karina yang sudah pacaran tiga tahun aja bisa berakhir begitu, Din. Apalagi kalau aku nikah dengan pria dari perjodohan? Bisa-bisa nyawaku yang ikut melayang.” Tahu temannya keras kepala, Dina pun menghela napas kasar. Lalu, secara asal dia berkata, “Ya kalau memang kamu benar-benar nggak mau dijodohin, pura-pura saja sudah punya pacar. Minta salah satu teman priamu buat jadi pacar palsu untuk sementara. Siapa tahu selagi kamu pura-pura, kalian malah saling jatuh cinta, atau kamu berhasil ketemu pria yang mau kamu nikahi, atau sebaliknya, pria yang mau dijodohin orang tuamu itu malah ketemu jodohnya sendiri.” Mendengar kalimat Dina, mata Rara berbinar. Ide itu ... rasanya tidak buruk. Wajah Rara tampak serius berpikir. “Tapi, siapa yang cocok kumintai bantuan, ya?” Dina mengerjapkan mata, tidak menyangka Rara menanggapi idenya. “Ra, aku cuma—” Saat itu, seseorang berdehem keras. Keduanya menoleh dan melihat kepala manajer mereka, Bu Stella, menatap mereka dengan tatapan tajam. “Kalian ini santai sekali dengan pekerjaan ya.” Sontak, keduanya langsung menegapkan tubuh dan tertawa kikuk. “E-eh, Bu Stella.” Bu Stella menghela napas kasar, lalu menatap Rara. “Pak CEO panggil kamu ke ruangan.” Rara terkejut. “Ada masalah apa ya, Bu?” tanyanya hati-hati. “Kurang tahu, saya nggak dijelasin detailnya. Tapi sepertinya ada hubungan dengan proyek baru. Langsung saja ke sana dan tanya langsung, jangan buat Pak CEO menunggu lama.” Ditegur seperti itu, Rara sedikit tersentak. “Siap, Bu!” Rara pun cepat-cepat berdiri dan bergegas menuju kantor CEO. Sampai di depan pintu, Rara merapikan diri terlebih dahulu, lalu menarik napas panjang sebelum kemudian mengetuk pintu. “Pak, ini Rara dari project management,” ucapnya. Dari dalam ruangan, terdengar suara dalam yang berkumandang dingin, “Masuk.” Rara pun mendorong pintu, lalu berjalan masuk dengan hati-hati. Di dalam ruangan yang memiliki warna serba putih-coklat itu, terlihat satu sosok pria yang duduk di kursi kebesarannya dalam diam. Pandangan pria itu masih terarah kepada dokumen, membuat Rara hanya bisa melihat setengah wajahnya. Satya Mahendra, CEO dari WM Corporation tempat Rara bekerja, seorang pria dingin yang terkenal dengan ketegasannya saat bekerja. “Bapak panggil saya?” tanya Rara seraya berjalan menghampiri meja pria tersebut. Mendengar suaranya, pria tersebut mengangkat wajahnya. Seketika, paras tampannya pun menghiasi pandangan Rara. “Sudah berapa kali aku katakan, panggil langsung namaku kalau hanya berdua,” tegas pria itu dengan alis berkerut. Balasan itu membuat Rara tertawa canggung. “Tapi kan ... kita lagi di kantor, Pak. Nggak enak dong bawahan panggil nama atasannya secara langsung gitu.” Pandangan Satya menajam. “Bercanda!” Seketika Rara terkekeh. “Jangan serius-serius gitu dong, sahabatku tersayang~” Melihat topeng ‘sopan’ Rara luruh sepenuhnya, Satya menghela napas kasar dan berkata, “Cepat duduk. Ada proyek baru yang harus kita diskusikan.” Rara tertawa kecil sebelum akhirnya duduk di depan Satya yang memulai diskusi. Reputasi Satya Mahendra sebagai CEO yang dingin, tegas, dan tidak kenal kompromi sudah tersebar luas, dan menjadikannya sangat dihormati sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Banyak karyawan yang takut padanya, termasuk beberapa manajer senior yang sudah bekerja puluhan tahun. Namun, pria tiga puluh tahun dengan reputasi mengerikan dan wajah tampan ini ... dia adalah teman kecil Rara. “Jadi, untuk proyek ini, aku serahkan semua padamu. Ada pertanyaan?” ucap Satya saat mereka selesai berdiskusi. “Sebentar.” Rara membolak-balik halaman dokumen di tangannya. Selagi Rara melakukan itu, Satya menatapnya dalam diam. Tatapan pria itu tenang, seperti mempertimbangkan diri untuk mengatakan sesuatu. Namun, saat Rara selesai membaca dokumen, pria itu kembali memasang ekspresi dinginnya. “Nggak ada sih. Aman. Aku paham. Kamu sendiri ada lagi yang mau dibicarakan?” tanya Rara seraya menatap Satya. Satya kembali mengalihkan pandangan ke layar komputernya. “Tidak. Kamu bisa pergi.” Melihat sikap dingin temannya itu, Rara mendecakkan lidah dan memaki dalam hati, ‘Cih, sok dingin ....’ Lalu, Rara bangkit dan mengambil tumpukan dokumen dari meja sebelum berjalan menuju pintu. Tampan, cerdas, dan berasal dari keluarga kaya. Sebagai seorang pria, Satya punya tiga hal utama yang dicari wanita. Namun sayang sekali, sikap Satya yang terlalu dingin membuat banyak wanita takut padanya dan memilih mengaguminya dari jauh. Kalaupun ada wanita yang mendekati, Satya pasti akan segera menjauhinya. Setengah bercanda, Rara membatin, ‘Coba aja kamu nggak punya sikap dingin dan menyebalkan, pasti aku juga udah kejar kamu buat dijadiin pacar.’ Tiba-tiba, Rara berhenti. ‘Tunggu ... jadiin Satya pacar?’ Melihat Rara tiba-tiba membeku di depan pintu dan tidak lanjut keluar, Satya mencoba bertanya, “Kenapa—“ Namun, belum sempat Satya menyelesaikan kalimatnya, Rara berbalik—melangkah kembali ke mejanya dan membanting dokumen yang ia bawa. “Ayo kita pacaran!” Alis Satya sedikit terangkat. Ia terdiam, menatap Rara tanpa berkedip, seolah sedang menimbang sesuatu yang tidak masuk akal.Restoran bernuansa hangat dengan alunan musik instrumental lembut malam itu menjadi saksi pertemuan Rara dan Arjuna. Di meja sudut yang lebih privat, hidangan makan malam mereka sudah tersaji, lengkap dengan rasa canggung yang mendadak menyelimuti atmosfer di antara mereka.Wakil direktur JJ Investama itu tampil rapi seperti biasa. Namun, malam ini sorot matanya tampak berbeda, lebih intens dan dipenuhi keseriusan.Setelah percakapan ringan mengenai perkembangan proyek dan basa-basi formal selesai, Arjuna meletakkan sendok dan garpunya. Ia menatap Rara lekat-lekat.“Ra,” panggil Arjuna lembut, memutus keheningan sesaat di antara mereka.Rara mendongak, menghentikan kegiatannya memotong steik. “Ya?”Sambil mengulas senyum tipis yang terlihat tulus, Arjuna menarik napas dalam seakan mengumpulkan keberanian sebelum melanjutkan kalimatnya. “Ada hal penting yang ingin kusampaikan malam ini.”Rara menatap pria di hadapannya dengan serius.“Ini bukan tentang bisnis,” lanjut Arjuna. “Tapi, in
Sore itu, usai kunjungan ke lokasi proyek, Rara berjalan masuk ke lobi kantor WM dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Meski udara di dalam ruangan sangat dingin berkat AC, rasa lelah yang dirasakannya sejak siang tadi sama sekali tidak berkurang.Begitu ia melangkah masuk ke ruangan departemen project management, sosok Dina sudah berdiri di dekat partisi dengan beberapa dokumen di tangan. Sahabatnya itu langsung menoleh begitu menyadari kehadiran Rara. “Sore banget Ra, baliknya,” tegur Dina sembari melirik jam digital di salah satu sisi ruangan. “Ada masalah?”Rara mengembuskan napas panjang, meletakkan tas kerjanya di atas meja dengan lemas. “Jangan ditanya, Din. Site visit hari ini benar-benar menguras energi. Muterin lokasi proyek yang luas banget itu di bawah terik matahari bikin kaki aku rasanya mau copot.”Dina terkekeh pelan, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Rara, matanya berbinar cerah. “Nah, pas banget kalau gitu. Kebetulan, tadi Bu Stella nitip pesan ke aku. Beliau ngajak ma
Matahari siang bersinar terik di atas kepala, membakar area proyek pembangunan Grade A Office Tower yang sedang digarap bersama oleh WM Corporation dan JJ Investama. Suara deru mesin molen, dentang alat berat, dan ketukan palu bertalu-talu memenuhi udara yang kering dan berdebu di area konstruksi menara megah tersebut.Rara berjalan satu langkah di belakang Satya, mengenakan helm proyek putih dan rompi keselamatan berwarna terang. Matanya sibuk mencatat beberapa poin penting di papan jalan yang dipegangnya, namun sejujurnya, fokus Rara hari ini berantakan.Setiap kali ia menatap punggung tegap Satya yang dibalut kemeja kerja yang digulung hingga siku, ingatan Rara langsung terlempar pada kejadian semalam. Sentuhan ibu jari Satya di sudut bibirnya serta pertanyaan retoris pria itu di dalam mobil seolah masih meninggalkan sensasi hangat yang membakar kulitnya.“Area fondasi dan struktur tiang pancang un
Keheningan di dalam mobil mewah Satya malam itu terasa berbeda dari biasanya. Jika pada perjalanan-perjalanan sebelumnya keheningan itu terasa kosong dan biasa saja, kali ini atmosfer di dalam sana terasa begitu padat, bahkan cenderung intim.Rara duduk kaku di kursi penumpang. Matanya lurus menatap lampu-lampu jalanan ibu kota yang melesat di balik kaca, tetapi fokusnya sepenuhnya tertuju pada siluet Satya di sampingnya.Sejak tadi, jantungnya terus berdebar, entah karena apa. Padahal, bukan sekali dua kali ia duduk di dalam ruang mobil yang sama dengan Satya.Mereka sudah sering berbagi ruang yang sempit seperti ini, baik saat pulang larut malam setelah lembur kerja atau ketika menghadiri acara keluarga. Tetapi memang, akhir-akhir ini atmosfer di antara mereka jadi terasa sedikit berbeda.Ada getaran asing yang Rara rasakan setiap kali pria itu berada di dekatnya. Rara sendiri tidak sadar sejak kapan ia mulai menjadi sesensitif ini terhadap kehadiran Satya.Satya menyetir dengan seb
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.