Aku menarik napas panjang sebelum akhirnya membuka pintu. "Iya, Na."Begitu pintu terbuka, Aina langsung menatapku dari ujung kepala sampai kaki."Bu, kok lama banget?""Tadi ... cuci muka."Tatapan Aina belum bergeser dari wajahku. Matanya tampak menyipit. "Ibu muntah?"Aku tertawa kecil, berusaha terdengar senatural mungkin. Kepalaku lantas menggeleng. "Enggak.""Tapi ... saya denger suara orang muntah.""Kamu salah dengar. Udah ah, kita ke ruangan.""Tapi, Bu—"Aku melangkah lebih dulu. Tidak menggubris bantahan Aina lagi. Karena semakin dijawab, yang ada pertanyaannya akan semakin melebar.Kami pun kembali ke ruang kerja.Studio sudah mulai ramai.Suara keyboard, printer, dan diskusi kecil terdengar dari berbagai sudut ruangan.Aku langsung duduk di depan laptop.Belum lima menit bekerja, aroma kopi dari meja Mas Bayu kembali tercium.Perutku lagi-lagi bergejolak.Cepat-cepat aku membuka laci meja dan mengambil minyak angin.Kubawa ke bawah meja lalu mengoleskan di pergelangan ta
อ่านเพิ่มเติม