Aku masih duduk di kursi makan sendirian. Menatap kue tart, lalu menatap ke arah pintu kamar kedua yang masih tertutup rapat.Menatap kue tart lagi lalu menunduk seraya mengembus napas berat.Jari jemariku saling meremas, baru kali ini aku mendapati sikap Ravyan seperti tadi.Ia sangat mungkin marah padaku, tapi tadi aku tengah kehilangan kendali.Baru pulang dalam keadaan lelah dan disambut dengan sikapnya yang posesif. Aku tahu dia khawatir, tapi seharusnya dia juga mengerti kalau aku ini bekerja bukan macam-macam.Kuhembus napas kasar, lalu akhirnya bangkit dari kursi. Berjalan menuju kamar kedua hingga berdiri tepat di depan daun pintunya.Tanganku sempat terangkat untuk mengetuk, tapi urung karena ragu.Akhirnya aku memilih masuk ke kamar utama dan membersihkan diri serta berganti pakaian.Setelah mengenakan piyama tidur, mengabaikan lelah yang terasa mengikat tubuh, aku tetap keluar dari kamar dan berdiri di depan pintu kamar kedua lagi.Tok Tok Tok!Kali ini, aku tak ragu menge
Read more