"Bagus," kataku sambil menyunggingkan senyum tipis. "Mbak Meyden, Mbak Kanya... alihkan perhatian pengawal di lorong sayap barat sebentar. Saya butuh alasan buat masuk ke ruang kerja Mbak Ciska.""Gampang," sahut Meyden mantap. "Aku bakal suruh pengawal luar fokus jaga area tangga."Aku mengambil sebuah nampan kayu kecil di atas meja kamar, meletakkan gelas berisi air hangat di atasnya, lalu melangkah keluar kamar dengan raut polos yang sudah terpasang rapi di wajahku.Begitu melewati lorong sayap barat, aku membuka pintu ruang kerja Ciska pelan-pelan.Di dalam ruangan, Ciska tampak seperti orang kesetanan. Berkas-berkas menumpuk berantakan di mejanya, sementara jarinya menari liar di atas keyboard. Wajah cantiknya pucat pasi, peluh dingin menetes di pelipisnya.Dengan alasan membawakan minum, aku berhasil keluar dari kamar dan melangkah masuk ke ruangannya membawa nampan berisi segelas air hangat. Aku memasang raut polos seperti biasa."Mbak Ciska..." panggilku pelan. "Ini minum dulu
อ่านเพิ่มเติม