Ciuman itu bukan sekadar sentuhan biasa. Xavier mencium Divya dengan dalam, seolah menuntut sesuatu yang belum sempat ia miliki sepenuhnya. Bibirnya bergerak perlahan, menguasai, mencumbu, hingga akhirnya membuat Divya mengeluarkan erangan kecil tanpa sadar. Jari-jari Divya mencengkeram ujung meja, berusaha mempertahankan keseimbangan saat Xavier terus menekan tubuhnya ke kursi, menciptakan sensasi panas yang menjalar di setiap inci kulitnya.Ruangan itu sunyi, hanya ada suara napas mereka yang mulai memburu. Xavier tidak terburu-buru. Ia menikmati momen ini, merasakan betapa tubuh Divya perlahan melemas di bawah sentuhannya. Saat ia menggigit lembut bibir bawah wanita itu, Divya mengerjapkan mata, napasnya tersengal, dan tangan kecilnya terangkat, menggenggam erat bahu Xavier. Ciuman mereka semakin dalam, lebih berbahaya, lebih membakar. Xavier menyapu lidahnya ke dalam mulut Divya, mengeksplorasi, membuat wanita itu kehilangan kendali.Ketika akhirnya Xavier menarik diri,
Read more