Dihyas langsung tersenyum kecil mendengar pertanyaan itu, lalu tanpa banyak bicara ia mendorong bahu pria itu pelan ke arah mobil yang dibawa Pak Bram.“Ayo, masuk.”Garvan sempat mengangkat alis, seolah tidak menyangka Dihyas justru akan bersikap sesantai itu setelah semua kejadian malam ini.“Kau menyuruhku masuk?”“Iya. Atau kau mau di bakar dengan mayat-mayat itu?”Garvan terkekeh kecil, kemudian mengikuti Dihyas masuk ke dalam mobil. Sedangkan mobil Dihyas di bawa oleh Reon yang sangat ingin mencobanya dan beberapa pengawal lainnya.Pak Bram yang sejak tadi menunggu di kursi depan bahkan belum sempat bertanya apa pun ketika kedua orang itu duduk di belakang.Namun beberapa detik kemudian, ia mendengar suara tawa kecil dari belakang.Pak Bram mengerutkan kening dan menoleh pelan melalui kaca spion, saat itu juga...matanya langsung membesar.“Lho...?”Garvan yang selama bertahun-tahun dikenalnya sebagai pria yang sangat sulit didekati, bahkan nyaris tidak pernah menunjukkan ketert
Baca selengkapnya