Begitu turun dari kereta, aku melangkah kembali ke rumah sakit dengan lesu, seperti ayam jago yang kalah bertarung.Rian sudah menungguku di dalam ruang kantornya.Dia duduk di balik meja kerja, menatapku dengan santai seolah sedang melihat seekor burung kenari yang pulang sendiri ke sangkarnya.“Sudah puas mainnya?” tanyanya.Aku tak bersuara, hanya menatapnya lekat-lekat dengan penuh amarah.“Kenapa? Nggak terima?” Dia berdiri, melangkah ke hadapanku, lalu mencengkeram daguku dan melanjutkan, “Kamu pikir aku bakal benar-benar membiarkanmu pergi?”“Rian, sebenarnya apa maumu?” Akhirnya aku tak tahan lagi dan berteriak histeris, “Kamu sudah punya Felly, kok masih nggak mau melepaskanku?”“Siapa yang bilang aku sudah punya Felly?” tanyanya sambil mengangkat alis.“Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri! Kamu memapahnya masuk ke dalam hotel!”“Lalu?” Dia menatapku dengan pandangan gemas dan melanjutkan, “Kamu lihat kami check-in? Atau kamu lihat kami tidur bersama?”Aku langsung terdiam.
Magbasa pa