Mita keluar dari ruangan tanpa bersimpati. Meski telah membaca sendiri surat keterangan kleptoku dari Idris. Bahkan sekadar lirikan mata atau say good bye pun tidak. Kebersamaan kami di rumah asrama selama ini seperti tiada makna sebab burikku yang terkuak. Ah, abaikan. Memang tidak salah dia jijik padaku .... “Duduk saja jika ingin,” ucap Idris sambil menunjuk kursi di depan meja. Aku menggeleng, sama sekali tidak minat. Perasaan ini demikian tegang. Penuh tanya dengan nasibku. “Anda ini siapa, Pak Idris. Kapan berjumpa ayahku?” Tak mampu lagi kutahan penasaran. “Sudah lama,” sahut Idris datar. Dia tidak memandangku dan sedang merapikan tas kerja. “Kapan?” desakku cepat. “Saat awal kau bekerja. Ayahmu menitipkanmu pada papa. Aku pun ikut menemui ayahmu,” ucap Idris tenang. Jantungku berdetak kencang. Selain terperanjat, baru kali ini pandangan lelaki rupawan itu lumayan adem. Dia terlihat lebih mempesona dan tampan! “Jadi, Anda dan almarhum Pak Hendrawan sudah tahu? K
Last Updated : 2026-07-04 Read more