“Di sana, Mas!” tunjuk Bu Munah sambil mempercepat langkah menuju rumpun pandan yang tumbuh cukup lebat di pinggir kebun.Julian mengikuti dari belakang. Melihat langkah Bu Munah yang begitu bersemangat, ia justru harus menahan tawanya sendiri."Waduh... Bu Munah benar-benar ngeri sekali." batinnya.Tak sampai satu menit berjalan, mereka tiba di balik rumpun pandan. Tempat itu memang cukup tertutup dari jalan desa, hanya terdengar suara gemericik air dari sungai kecil di belakang lahan.Bu Munah berhenti.Wajahnya tampak gugup. Tangannya saling menggenggam. Ia tak menyangka jika hari ini akan kejatuhan durian runtuh, di ajak bercocok tanam oleh dokter muda yang bak artis Korea yang sering ia tonton di TV.“Mas... di sini sudah sepi.” Munah berhenti. Dadanya berdetak kencang. Mahkotanya sudah basah terlebih dahulu. Ia memikirkan gaya apa yang akan di pakai Julian nanti.Julian mengangguk santai.“Iya, Bu.”Bu Munah menundukkan kepala sebentar.“Terus...?” kedua tangan Munah sudah menem
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-07-28 อ่านเพิ่มเติม