Roni menyuap nasi pecelnya perlahan, berusaha mengabaikan rasa canggung yang menyelimuti. Tapi diam-diam, ia masih penasaran dengan sikap Tika yang begitu berubah. “Tika,” Roni mencoba lagi, suaranya ramah. “Kamu kerja apa di sana?” Tika mengangkat kepalanya dari ponsel, menatap Roni dengan ekspresi datar. “Kerja di pabrik.” “Oh, pabrik!” Roni menyambut antusias. “Pasti seru ya, ada banyak orang di sana. Kamu pasti punya banyak cerita tentang kota. Bagaimana rasanya hidup di kota besar?” Tika mendesah pelan, jari-jarinya masih sibuk menggulir layar. “Biasa saja.” Jawabannya singkat, tanpa antusiasme. Roni tidak menyerah. “Aku dengar kota itu punya banyak tempat hiburan. Bioskop, mal, kafe-kafe bagus. Kamu pasti sering pergi ke sana, kan?” “Kadang-kadang,” jawab Tika, masih tidak menatap Roni. Bu Arum yang dari tadi mendengarkan dari balik meja, ikut menyela. “Tika,
Last Updated : 2026-07-14 Read more