Ternyata, sikap cuek ala selebriti saat ujian bukan sekadar acting, tapi ada strategi di baliknya. Mereka seringkali melihat ujian sebagai bagian kecil dari perjalanan, bukan akhir segalanya. Salah satu kunci yang kubaca dari wawancara artis favoritku adalah memprioritaskan persiapan mental ketimbang panik. Misalnya, dengan membuat jadwal belajar yang realistis dan menyisipkan waktu untuk relaksasi, seperti meditasi atau menonton film pendek.
Yang menarik, banyak dari mereka juga menghindari overthinking dengan teknik visualisasi. Alih-alih membayangkan kegagalan, mereka mengimajinasikan diri menyelesaikan soal dengan tenang. Aku pernah coba metode ini saat UTS, dan efeknya lumayan—rasa tegang berkurang drastis. Oh ya, trik kecil lain: gaya berpakaian nyaman tapi stylish juga bisa bikin mood lebih oke, lho!
Pernah memperhatikan bagaimana para selebgram tetap chill meskipun tengah deadline? Prinsip yang sama bisa diterapkan ke dunia akademis. Pertama-tama, aku belajar untuk tidak membandingkan persiapan sendiri dengan orang lain—kayak seleb yang enggak peduli dengan trending topic negatif. Fokus pada materi yang sudah dikuasai, bukan pada yang belum.
Kedua, kubiasakan diri untuk ‘perform’ layaknya di depan kamera: percaya diri meskipun dalam hati masih deg-degan. Contoh konkretnya? Saat lupa rumus matematika, alih-alih grogi, aku tarik napas lalu kerjakan soal lain dulu. Gaya ala ‘bodo amat’ ini justru bikin otak lebih encer. Terakhir, seperti idol K-pop yang tetap tersenyum di atas panggung, aku selalu ingat bahwa ujian bukan satu-satunya penentu masa depan.
Ada satu quote dari aktor Hollywood yang nempel di kepalaku: 'Pretend until you make it.' Aku aplikasikan ini pas ujian dengan cara unik: memperlakukan ruang ujian seperti set film. Kostum? Hoodie favorit plus air mineral di meja sebagai properti. Sikap cueknya muncul karena aku ‘bermain peran’ sebagai karakter yang cool under pressure.
Selain itu, aku mengurangi kebiasaan begadang seminggu sebelum D-day—mirip persiapan seleb sebelum konser besar. Hasilnya? Meskipun dapat nilai pas-pasan, setidaknya aku tidak everhidrasi karena stres. Pelajaran utamanya: sometimes faking calmness actually leads to real calmness.
2026-05-18 11:05:34
4
View All Answers
Scan code to download App
Related Books
Setelah Istriku Memilih Pergi
A mum to be
10
49.8K
Raka terpaksa menikahi Sarah setelah sebuah kecelakaan yang menyebabkan kematian ayah Sarah dan membuat gadis itu harus hidup dengan tongkat. Meskipun bersikap dingin dan acuh tak acuh, Raka menjalani hari-harinya dengan Sarah yang diam-diam menanggung beban kesedihan dalam kesunyian.
Ketika Nadia yang merupakan cinta lama Raka kembali hadir, hubungan mereka yang sudah rapuh semakin terancam. Raka mulai dihadapkan pada dilema antara cinta masa lalunya dan tanggung jawab pada Sarah. Namun, Sarah mulai lelah bertahan.
Cintanya pada Raka diuji oleh pengabaian, penghinaan, dan rasa sakit yang tak pernah berhenti.
Sarah harus memilih, tetap bertahan dalam pernikahan tanpa cinta, atau melepaskan diri dari penderitaan yang terus mencekik. Di sisi lain, Raka mulai merasakan penyesalan yang mendalam ketika semuanya tampak sudah terlambat. Namun, penyesalan tak selalu datang dengan kesempatan kedua.
Apakah Raka akan mampu memperbaiki semuanya sebelum Sarah benar-benar pergi? Atau penyesalan yang terlambat hanya akan menyisakan luka tak tersembuhkan?
"Bu Teresa, berkas pengunduran dirimu sudah disetujui oleh Pak Alex, tapi dia nggak sadar bahwa yang mengundurkan diri adalah kamu. Perlu aku ingatkan dia?"
Mendengar kabar dari telepon itu, Teresa perlahan menundukkan pandangan, "Nggak perlu. Biarkan saja seperti ini."
"Tapi kamu sudah empat tahun jadi sekretaris di sisi Pak Alex. Dia paling puas dengan kinerjamu dan juga paling nggak bisa lepas darimu. Soal pengunduran diri ini, apa kamu benar-benar nggak mau mempertimbangkannya lagi?"
Bagian personalia membujuk dengan sabar, tetapi Teresa hanya tersenyum kecil.
Nurma adalah istri kedua yang baik, justru kehadirannya sangat diinginkan oleh istri pertama, Giska, 27 tahun, wanita yang bisu dan lumpuh semenjak mengalami kecelakaan 3 tahun silam.
Giska menguak pengkhianatan suaminya pada Nurma. Bagaimana ceritanya kalau istri pertama dan istri kedua bersatu untuk menghancurkan suami nakal mereka?
Aku sudah bersama dengan seorang aktor terkenal selama tujuh tahun dan menikah diam-diam selama lima tahun. Demi kariernya, aku perlu minum-minum sampai aku mengidap tukak lambung. Aku bahkan membiarkan harga diriku diinjak-injak orang lain.
Namun, dia malah pergi berkencan dengan seorang aktris yang terkenal lugu di dunia hiburan dan berciuman di bawah kembang api. Dia juga menyuruhku untuk lebih bermurah hati dan jangan menimbulkan keributan.
Setelahnya, aku pergi dinas dan terjebak longsor. Aku meneleponnya dengan ketakutan untuk yang terakhir kalinya. Namun, yang kudengar malah adalah dirinya yang sedang menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk aktris sok suci itu.
Ketika seluruh harapanku pupus dan aku mengajukan cerai, dia malah memohon padaku untuk tidak meninggalkannya seperti orang gila. Dia bahkan mengungkapkan hubungan pernikahan kami ketika menerima penghargaan.
Hubungan yang sudah berlangsung selama tujuh tahun ini akhirnya diketahui orang-orang. Namun, kali ini, aku sudah tidak menginginkannya.
...
Awalnya cuma kontrak.
Aku butuh rumah, dia butuh citra baik setelah gosip menghancurkan kariernya.
Tapi setelah tiga minggu pura-pura pacaran di depan kamera… yang pura-pura justru mulai terasa nyata.
Setiap tatapan, setiap sentuhan kecil, setiap momen “cut” di belakang layar — semuanya bikin batas antara akting dan kenyataan makin kabur.
Dan aku nggak tahu lagi, kapan terakhir kali aku berhenti pura-pura mencintainya.
“Awalnya skenario, tapi kenapa debarannya sungguhan?”
Ayah pacarku menggendongku dan mendudukkanku di wastafel kamar mandi.
Aku terisak dan meronta, air mata membanjiri wajahku.
“Om, nggak boleh, aku pacar anakmu.”
Namun, dia malah berkata bahwa ada tradisi di kampung mereka, yaitu calon menantu harus lulus ujian dari ayah mertua sebelum menikah, baru diizinkan masuk ke keluarganya.
Belum sempat aku terkejut, dia sudah dengan paksa menggunakan lututnya untuk membuka kedua kakiku….
Melihat perceraian selebriti yang tetap elegan seperti Gwyneth Paltrow dan Chris Martin memberi banyak pelajaran. Mereka memilih 'conscious uncoupling', fokus pada pertumbuhan pribadi tanpa saling menyakiti. Kuncinya adalah menjaga komunikasi tetap terbuka untuk urusan co-parenting, seperti yang dilakukan Jennifer Garner dan Ben Affleck. Aku selalu terkesan bagaimana mereka bisa mengadakan acara keluarga bersama meski sudah berpisah.
Penting juga untuk punya tim profesional - terapis, pengacara, bahkan PR handler. Selebriti seperti Priyanka Chopra dan Nick Jonas dikabarkan punya prenup detail yang melindungi aset kreatif masing-masing. Tapi yang paling menyentuh justru cara mereka mempertahankan mutual respect, seperti tampil di red carpet bersama setelah bercerai ala Channing Tatum dan Jenna Dewan.
Mimpi menjadi selebriti itu seperti mengarungi lautan luas—butuh kompas yang jelas dan perahu yang kokoh. Aku pernah ngobrol dengan teman yang kerja di industri hiburan, dan satu hal yang selalu ditekankan adalah konsistensi. Bukan cuma soal talenta, tapi juga bagaimana kamu membangun personal brand dari sekarang. Mulai dari konten di media sosial sampai jaringan pertemanan, semua harus dipikirkan matang.
Hal lain yang sering dilupakan adalah mental preparation. Dunia entertainment itu keras, penuh penolakan dan kritik. Aku sendiri sering lihat artis baru yang langsung down setelah dapat hate comments. Jadi, selain latihan vokal atau akting, penting banget untuk latihan mengelola emosi. Baca buku seperti 'The Artist’s Way' bisa membantu menguatkan mindset kreatif. Jangan lupa, industri ini juga tentang timing dan keberuntungan—jadi siapkan Plan B tanpa ever giving up on Plan A.
Ada semacam seni dalam bersikap acuh tak acuh tanpa benar-benar mengabaikan tanggung jawab akademis. Pertama, kuasai teknik 'selective attention'—tahu mana yang perlu diprioritaskan dan mana yang bisa diabaikan dengan elegan. Misalnya, catat poin-poin kunci dari materi ujian tanpa terjebak menghafal detail minor. Kedua, bangun citra 'low effort high result' dengan trik seperti menjawab soal esai dengan kalimat pendek tapi padat makna, atau pura-pura sibuk menggaris-bawahi tebook saat guru lewat.
Yang lucu, justru dengan tidak terlihat terlalu berusaha, kamu sering mendapat toleransi lebih dari pengajar. Mereka mungkin mengira kamu jenius alamiah atau punya metode belajar unik. Tapi jangan sampai keterlaluan—tetap sisipkan 1-2 pertanyaan cerdas di kelas sesekali untuk menjaga kredibilitas. Lagi pula, ujian cuek paling sukses adalah yang berhasil membuat semua orang berpikir kamu tidak belajar, tapi nilai tetap di atas rata-rata.
Ada satu momen di acara varietas Korea yang bikin aku tertohok: seorang selebritas diminta menelepon teman dekatnya di tengah malam hanya untuk menguji kesetiaan. Lucu sekaligus miris, karena realitanya ujian kesetiaan nggak sesederhana skenario TV. Dari pengamatanku, kunci utama justru ada di konsistensi sikap sehari-hari. Seleb yang benar-benar loyal biasanya nggak tiba-tiba 'baik' hanya saat ada kamera.
Contoh nyata? Lihat saja bagaimana Park Bo-young selalu disebut sebagai 'bintang tanpa skandal' oleh netizen. Rahasianya sederhana: sejak debut sampai sekarang, dia konsisten rendah hati dan profesional. Justru yang perlu diwaspadai adalah selebritas yang terlalu sering mengumbar janji manis di media sosial tapi tindakannya bertolak belakang. Ujian terbaik itu waktu dan tingkah laku natural, bukan tes dadakan.