Ada perdebatan menarik soal gacha dari sudut pandang hukum Islam. Beberapa ulama melihat mekanisme gacha mirip dengan 'qimar' atau judi, karena pemain mengeluarkan uang tanpa kepastian hadiah yang didapat. Tapi di sisi lain, ada yang berargumen ini lebih dekat ke 'jual beli ghairu musamma' (jual beli tanpa deskripsi pasti) selama tidak ada unsur penipuan.
Yang bikin rumit adalah variasi sistem gacha itu sendiri. Di game seperti 'Genshin Impact', kita bisa hitung probability dapat karakter langka, tapi di game lain rates-nya sering disembunyikan. Menurut pengamatan aku, semakin transparan dev tentang drop rates, semakin bisa diterima secara syar'i. Tapi kalau sistemnya bikin kecanduan dan memaksa terus ngeluarin duit, jelas masuk grey area.
Perspektif menarik datang dari temanku yang kuliah di pesantren modern. Dia bilang gacha itu analoginya kayak beli kacang goreng dalam bungkus tertutup - kita tahu akan dapat kacang, tapi tidak tahu bentuk dan jumlahnya. Dalam kitab-kitab fiqh klasik, jual beli model 'blind box' seperti ini diperbolehkan dengan syarat objek transaksinya jelas jenisnya. Tapi tetap ada batasannya: kalau sampai bikin kecanduan dan mengganggu ibadah, lebih baik dihindari. Aku sendiri setelah riset kecil-kecilan cenderung memilih game yang sistem gacha-nya fair atau bisa dapat karakter/langka item dengan grinding, bukan cuma mengandalkan luck.
Dari pengalaman diskusi di komunitas muslim gamers, hukum gacha itu tergantung niat dan dampaknya. Kalau cuma sesekali beli roll pakai uang sisa dan bisa kontrol diri, beberapa teman bilang itu halal asal gamenya sendiri tidak mengandung unsur haram. Tapi masalahnya banyak kasus dimana gacha bikin orang tergantung dan boros - ini yang menurut ustadz di channel YouTube favoritku termasuk 'israf' (pemborosan).
Aku pernah baca fatwa dari Majelis Ulama Mesir yang bilang sistem lootbox/gacha termasuk 'gharar' (ketidakjelasan) yang dilarang. Tapi menariknya, di Indonesia belum ada fatwa resmi MUI soal ini. Mungkin karena ini fenomena baru yang butuh kajian lebih mendalam dari sisi fiqh kontemporer.
2026-04-04 08:50:13
17
View All Answers
Scan code to download App
Related Books
Jika Istri Majikan dan Anaknya Memaksa, Aku Bisa Apa?
Langit Berawan
10
47.4K
Napasnya terengah, keringat bercampur air hujan menguarkan aroma yang meletupkan panas tubuh keduanya!
Di dalam mobil mewah yang baru saja berhenti di gerbang, Firzan merasakan cengkeraman jari-jari Miliana, sang majikan sekaligus mamah muda yang memabukkan, di kemejanya. "Kamu tahu kamu mau aku, Firzan," desis Miliana, suaranya parau. Jarak beberapa meter dari rumah sang suami terasa bagai jurang yang memisahkan mereka dari bahaya dan kenikmatan terlarang. Pertarungan antara godaan memabukkan dan bayangan Chantika yang tulus mengoyak Firzan, namun sentuhan panas ini terlalu kuat, terlalu nyata untuk dihindari.
Diana mengetahui kalau suaminya ternyata telah menikah lagi dengan seorang wanita yang dikenal Diana sebagai ipar dari suaminya. Suami Marisa meninggal dan ibu mertuanya meminta sang suami untuk menjaga dan mengutaman Marisa dan anaknya bersama Mahesa, bahkan lebih gila lagi, suaminya di suruh menikahi Marisa tanpa izin dari Diana.
Diana memilih untuk pergi setelah dia mengumumkan kepada seluruh karyawannya kalau dirinya adalah pewaris satu-satunya dari pemilik perusahaan tempat suami dan selingkuhnya bekerja.
Bagaimana sikap Dani dan ibunya saat tahu kalau Diana adalah pewaris Mahesa Group? Apakah Dani akan menyesal dan meminta maaf pada Diana yang kini memiliki hubungan dengan Erik, pria yang tanpa sengaja berpapasan dengan Diana saat Diana terluka melihat pengkhianatan suaminya dan ipar yang ternyata mantan terindah suaminya dimasa lalu.
Apa yang akan terjadi pada pernikahan mereka? Saksikan terus kisah mereka hanya di good novel, terima kasih.
Aku menatap kontrak pernikahan Keluarga Varsali yang didorong ayahku ke seberang meja.
Tanpa ragu, kutulis nama saudari tiriku, Dina, lalu kusodorkan kembali.
Ayahku terdiam membeku. Kemudian, matanya menyala dengan antusiasme konyol, seolah-olah baru saja memenangkan lotre.
"Kenapa kamu kamu mau memberikan kesempatan sesempurna ini pada adikmu?"
Di kehidupan sebelumnya, pernikahanku adalah bahan tertawaan semua orang di sekitarku. Aku si penyihir kecil liar berambut merah yang berani masuk ke dunia Cassius Varsali, pewaris sekaligus pemimpin Keluarga Kriminal Varsali.
Aku tak pernah sempurna, apalagi patuh.
Dia menyukai gaun bak dewi, aku memakai rok mini dan menari di atas meja. Dia menuntut keintiman yang misionaris, tradisional, dan patuh, aku ingin berada di atas, menungganginya, tenggelam sepenuhnya.
Di sebuah gala, para istri kalangan atas mentertawakan rambutku, gaunku, dan keliaranku. Kupikir setidaknya dia akan berpura-pura membelaku, tetapi dia tidak melakukannya.
"Maafkan dia. Dia belum ... terlatih dengan baik."
Terlatih. Seperti anjing.
Sepanjang kehidupan terakhirku, aku tercekik di bawah aturannya, membengkokkan diriku hingga berdarah agar pas dengan bentuk yang dia inginkan, sampai malam rumah kami terbakar.
Saat aku membuka mata lagi, aku kembali ke momen ketika pertama kali mengetahui perjodohan itu.
Aku menatap kontrak di hadapanku.
Kali ini? Kurasa para pria klub malam lebih cocok untukku.
Namun, saat Cassius menyadari pengantinnya bukan aku, dia menghancurkan setiap aturan yang selama ini dia pegang teguh.
Ari—pengacara muda, tampan, idealis.
Dara—anak gubernur, dicap pembunuh, menyimpan luka yang tak pernah ditulis hukum.
Ari Pratama, seorang pengacara muda yang baru saja membuka firma hukumnya sendiri, dikenal sebagai “pengacara rakyat” yang menolak tunduk pada uang dan kekuasaan. Namun ketika ia diminta membela Dara Cahyadi, putri gubernur yang dituduh membunuh mantan kekasihnya, dunia Ari berubah selamanya.
Semua bukti mengarah pada Dara. Media, publik, bahkan hukum seolah telah menjatuhkan vonis sebelum sidang dimulai. Tapi semakin dalam Ari menyelidiki, semakin ia yakin ada sesuatu yang tak tertulis—sebuah kebenaran yang tersembunyi oleh kekuasaan, trauma, dan skandal keluarga.
Dilema muncul saat Ari mulai jatuh hati pada Dara. Di antara tekanan politik, ancaman profesi, dan sumpah advokat, Ari dihadapkan pada satu pertanyaan yang tak diajarkan di bangku kuliah hukum:
Apakah cinta bisa dibela... tanpa melanggar sumpah dan nurani?
Dalam dunia hukum yang tak sepenuhnya adil, kadang yang benar bukan yang menang—dan yang tertulis, belum tentu kebenaran.
Raisa Mahendra, seorang jaksa muda idealis, hidupnya penuh prinsip dan dingin terhadap cinta. Namun segalanya berubah saat dia ditugaskan menangani kasus besar yang menyeret nama Revan Aditya, mantan anggota pasukan elit yang kini menjadi pengusaha sukses—dan juga tersangka pembunuhan.
Dalam pusaran hukum, konspirasi, dan pengkhianatan, benih-benih cinta mulai tumbuh. Tapi mampukah cinta bertahan di antara kebenaran dan keadilan?
Senja, pria tertutup dan nyaris sempurna merasa terganggu dengan kehadiran Kemuning. Gadis SMA yang menolongnya itu ternyata sahabat adiknya sendiri.
Dengan segala cara Senja berusaha merusak hubungan Kemuning dan adiknya agar gadis SMA itu pergi dari hidupnya. Tapi takdir berkata lain, saat hati Senja terpikat oleh pesona gadis SMA itu, Senja harus menghadapi pahitnya perjalanan asmara yang harus dilaluinya.
Pernah nggak sih ngobrol sama temen yang tiba-tiba nyerempet bahas ginian? Aku dulu penasaran banget sampai browsing forum-forum Islam sama nanya ustadz. Ternyata dalam Islam, sentuhan fisik antara lawan jenis yang bukan mahram itu termasuk hal yang diatur ketat. Kalo nggak ada keperluan mendesak atau hubungan keluarga, sebaiknya dihindari.
Dari beberapa sumber yang kubaca, ulama sepakat bahwa meraba-raba dengan nafsu atau tanpa tujuan jelas termasuk perbuatan zina kecil. Ini berdasarkan hadis tentang larangan menyentuh wanita yang bukan mahram. Jadi lebih baik menjaga jarak dan menghormati batasan dalam interaksi sosial biar nggak masuk wilayah syubhat.
Pernah nggak sih kepikiran kenapa mekanisme gacha bikin banyak orang kecanduan? Dari sudut pandang agama Islam, ini sebenarnya ngebahas soal unsur judi yang terselip. Prinsipnya, ketika kita nggak bisa memprediksi hasil apa yang bakal didapat setelah ngeluarin duit, itu udah masuk grey area. Syariah jelas melarang segala bentuk judi karena mengandung gharar (ketidakpastian) dan maysir (spekulasi). Gacha bisa dianggap haram kalau dilihat dari sisi itu—apalagi kalau sampai bikin ketagihan dan boros.
Tapi menariknya, nggak semua gacha itu sama. Ada game yang sistem gacha-nya masih fair karena item atau karakter yang didapetin tetap bisa diraih dengan grinding, bukan cuma modal duit. Nah, kalau kayak gitu, mungkin masih ada ruang untuk diskusi. Tapi tetep aja, selama ada elemen 'untung-untungan' dengan uang nyata, risiko keharamannya nggak bisa diabaikan. Aku pribadi sih lebih milih main game yang nggak monetize lewat gacha biar nggak was-was.
Melihat gacha dari sudut pandang psikologis, ada alasan kuat untuk khawatir. Mekaniknya dirancang untuk memicu dopamine dengan hadiah acak, mirip dengan mesin slot. Bedanya, di gacha kita dapat barang digital, bukan uang. Tapi efek ketagihannya nyata—aku pernah menghabiskan 3 juta dalam seminggu untuk karakter 'Genshin Impact' yang tak kunjung dapat.
Yang bikin miris, banyak game sekarang pakai sistem 'pity counter' (jaminan dapat item langka setelah sekian spin), seolah memberi ilusi kontrol. Padahal, itu cuma cara licin untuk membuat kita terus mengeluarkan uang. Bukan judi dalam arti haram, tapi ethically questionable banget, terutama saat targetin anak-anak yang belum paham konsep uang.
Dari sudut pandang agama, terutama dalam Islam, gacha bisa dianggap haram jika memenuhi beberapa kriteria judi. Mekaniknya yang mengandalkan untung-untungan dan adrenalin 'taruhan' untuk mendapatkan item langka memang mirip dengan judi konvensional. Tapi, bedanya di sini kita tetap mendapat sesuatu, meskipun bukan yang diinginkan. Aku pernah diskusi dengan teman yang belajar fiqh, dan dia bilang bahwa selama ada unsur ketidakpastian besar dan dorongan untuk terus mengeluarkan uang tanpa jaminan hasil, itu masuk area abu-abu. Namun, beberapa ulama juga berpendapat bahwa selama tidak sampai membuat kecanduan atau merusak finansial, mungkin masih bisa ditoleransi. Tergantung niat dan batasan masing-masing.
Yang jelas, aku sendiri pernah terjebak menghabiskan ratusan ribu untuk karakter di 'Genshin Impact' dan menyesal kemudian. Rasanya seperti dibius oleh desain psikologis sistem gacha itu. Sekarang aku lebih memilih game dengan model bisnis sekali bayar atau battle pass yang lebih transparan. Bagaimanapun, hiburan harusnya bikin bahagia, bukan bikin stres karena utang!