Kalau dilihat dari sudut pandang sinematik, 'Under the Influence' adalah kritik tajam terhadap budaya influencer yang sering mengorbankan nilai-nilai personal demi engagement. Film ini menggunakan simbolisme visual yang kuat, seperti layar ponsel yang selalu menyala di kegelapan atau pantulan diri di filter Instagram, untuk menggambarkan alienasi digital. Narasinya dibangun dengan pacing yang tepat, tidak terburu-buru tapi juga tidak terlalu lamban.
Yang bikin film ini beda dari drama sejenis adalah cara menghadirkan antagonistnya—bukan orang tertentu, tapi sistem algoritma sosial media itu sendiri. Konflik utama justru datang dari pertarungan karakter melawan kebiasaan doomscrolling dan FOMO. Adegan where she deletes all her accounts secara spontan itu benar-benar powerful, seperti melepaskan belenggu. Cocok ditonton sambil refleksi diri tentang hubungan kita dengan teknologi sehari-hari.
Film 'Under the Influence' bercerita tentang perjalanan seorang influencer sosial media yang terjebak dalam dunia glamor dan tekanan untuk terus menghasilkan konten viral. Awalnya, karakter utama menikmati ketenaran dan keuntungan finansial, tetapi perlahan-lahan mulai kehilangan jati diri. Film ini menggali sisi gelap dari kehidupan digital, seperti kecanduan validasi online, persaingan toxic, dan dampak mental yang tidak terlihat. Adegan-adegannya seringkali menyentuh karena menyajikan konflik batin yang relatable bagi generasi muda.
Yang menarik, film ini tidak hanya kritik sosial tapi juga punya lapisan emosional yang dalam. Karakter utamanya digambarkan sebagai sosok kompleks—di satu sisi haus pengakuan, di sisi lain rindu keautentikan. Plot twist di akhir tentang bagaimana dia memutuskan untuk 'keluar' dari lingkaran toxic menjadi klimaks yang memuaskan. Film ini cocok buat yang suka cerita tentang human vs technology dengan sentuhan drama psikologis.
Dari lensa budaya pop, 'Under the Influence' berhasil menangkap zeitgeist generasi Z yang terjepit antara ekspektasi sosial dan ekspresi diri. Film ini pintar memakai metafora—seperti makeup yang semakin tebal seiring meningkatnya followers—untuk menunjukkan erosi identitas. Soundtrack-nya juga curated dengan baik, mixing lagu-lagu viral TikTok dengan instrumental melancholic yang mencerminkan dualitas kehidupan online-offline.
Yang paling memorable itu scene dimana dia breakdown karena sebuah postingan gagal viral, sementara teman masa kecilnya mengunggah foto sederhana tentang kebahagiaan mundane. Kontras ini menyoroti absurditas kita dalam mengejar likes. Ending yang ambigu (apakah dia benar-benar free atau justru membuat comeback dengan persona baru?) meninggalkan ruang untuk diskusi panjang tentang makna kebebasan di era digital.
2026-05-12 10:18:21
6
Lihat Semua Jawaban
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Buku Terkait
Di Ujung Perpisahan
Stary Dream
10
43.3K
"Jika aku diberi kesempatan untuk lahir kembali.. aku tidak ingin menjadi istrimu, mas. Aku tidak mau menjadi orang ketiga diantara hubunganmu dengannya. Kamu pantas bahagia."
"Lalu kenapa aku harus jatuh cinta padamu diujung perpisahan kita?"
***
Indah sudah putus asa akan hubungannya dengan suaminya. Ia pasrah ketika Biru memberikan talak tiga dan mengakhiri kisah rumah tangga mereka.
Tapi kenapa cinta malah terbit di hati Biru ketika perpisahan mereka diujung mata?
Sedangkan mereka sudah tak memiliki jalan untuk kembali bersama..
Kinara terpaksa memenuhi permintaan terakhir ayahnya untuk menikah dengan lelaki pilihan sang ayah, Aditama Prawira, seseorang yang tidak ia kenali, apalagi cintai. Pernikahan tanpa arah, tidak ada cinta dan gairah. Namun, seiring waktu perasaan itu mulai tumbuh. Sayangnya, hadirnya mantan kekasih Aditama justru hadir menguji pernikahan mereka!
Nadia ingin berbagi kebahagiaan atas kehamilannya pada kedua orang tua dan Nabila saudaranya. Betapa terkejutnya Nadia saat melihat keluarganya bahagia atas kehamilan Nabila yang ia ketahui belum menikah, dan yang lebih mengejutkan lagi lelaki yang menjadi ayah dari anak yang dikandung Nabila adalah Rama suaminya. Talak akhirnya terucap dari bibir Rama.
Nadia pergi dalam kekalutan hingga mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dia keguguran. Nadia yang merasakannya sakit raga dan hatinya masih harus berhadapan dengan Gio pemilik mobil mewah yang ia tabrak. Dan sebagai ganti rugi yang tak sedikit Gio meminta Nadia menjadi istrinya. Padahal Gio adalah pemilik perusahaan tempat Rama bekerja.
Terbesit balas dendam, tapi ternyata menikah dengan Gio bagaikan memasuki neraka dunia yang lain.
“Kak… sayang, puaskan aku.”
“Sial! Kamu belajar dari mana? Kok tiba-tiba jadi begitu jago?”
Di dalam bioskop, aku menyamar jadi kakakku. Tangan kakak ipar sudah menyelinap ke balik rokku dan meraba-rabanya.
Reaksiku yang begitu sensitif membuat wajah kakak ipar memerah karena bergairah. Tanpa membuang waktu, dia langsung melorotkan celananya.
Benda miliknya yang besar itu memantul keluar. Dia menggendong dan mendudukanku di pangkuannya, rasa membaranya menembus tubuhku.
Tubuhku gemetar, aku memekik tertahan dan mencapai klimaks.
Detik berikutnya, aku mendengar suara cemas kakak ipar, “Jangan bergerak! Ada orang yang melihat ke arah kita!”
Luka masa lalu menghantui kehidupan kakak beradik itu, mereka adalah Allendra dan Alena Spancer. Keduanya tenggelam dalam kebencian dan pada akhirnya harus saling menyakiti. Alena ingin membunuh kakaknya dan Allendra bahagia dengan tekad mengerikan sang adik. Alena memang harus begitu.
Di tengah kemelut masalah kakak beradik itu, hadirlah Azeeya, sosok guru yang tiba-tiba terseret dalam kehidupan pelik keluarga Spancer. Ia telanjur terjebak di sana dan pada akhirnya harus mengecap cinta untuk seseorang yang tak mempercayai cinta.
Season 1 dan Season 2, SELESAI!
"Kamu menidurinya?”
“Aku sama sekali tidak tidur dengannya!"
“Lying and cheating don't just happen. It's a deliberate choice, so stop hiding behind the word 'mistake.' When you get caught.”
Ada sesuatu yang magnetis tentang bagaimana 'Under the Influence' menggali kompleksitas hubungan manusia di era digital. Serial ini bercerita tentang seorang influencer yang hidupnya berubah drastis setelah bertemu dengan seorang penggemar misterius. Awalnya, interaksi mereka terlihat biasa—komentar di media sosial, DM yang ramah—tapi perlahan, garis antara pengagum dan penguntit mulai kabur. Yang menarik, serial ini tidak sekadar tentang ketakutan klasik; ia menyentuh persoalan identitas online vs. realita, bagaimana kita memproyeksikan diri di layar, dan dampaknya pada kesehatan mental.
Plotnya berbelok dengan cerdik ketika sang influencer menyadari bahwa penggemar itu mungkin lebih mengenalnya daripada orang-orang di sekitarnya. Adegan-adegan suspense dibangun dengan pacing yang pas, sambil menyelipkan kritik halus tentang budaya 'like' dan validasi virtual. Aku suka bagaimana karakter utamanya tidak digambarkan sebagai korban pasif, tapi seseorang yang berjuang mengambil kendali—meski akhirnya pertanyaannya tetap: sampai di titik mana kita benar-benar bisa mengendalikan narasi hidup sendiri?
Menyelami 'Under the Influence' itu seperti membuka pintu ke dunia di mana media sosial bukan sekadar alat, tapi panggung di mana identitas dan kebenaran saling bertabrakan. Serial ini menggali bagaimana kehidupan seorang influencer bisa terlihat glamor di permukaan, tapi sebenarnya dipenuhi tekanan untuk terus mempertahankan citra yang sempurna. Aku terpukau dengan cara ceritanya mengungkap sisi gelap dari ketenaran digital—mulai dari obsesi terhadap like, komentar pedas yang menghancurkan mental, sampai manipulasi konten demi engagement.
Yang bikin menarik, serial ini juga menyentuh soal bagaimana audiens sering lupa bahwa apa yang mereka lihat di layar adalah versi yang sudah difilter. Adegan di episode 4 ketika karakter utama breakdown karena merasa dikhianati oleh angka-angka di layar benar-benar bikin merinding. Ini bukan sekadar drama tentang popularitas, tapi semacam cermin buat kita semua yang terjebak dalam siklus validasi online.
Ada sesuatu yang sangat menggigit tentang 'Under the Influence' yang bikin aku terus mikir bahkan setelah menontonnya. Ceritanya mengikuti seorang influencer media sosial yang terjebak dalam lingkaran toxic dari ketenaran dan ekspektasi pengikutnya. Awalnya terlihat glamor, tapi perlahan-lahan kita melihat bagaimana karakter utamanya kehilangan identitas aslinya demi engagement.
Yang paling menarik adalah bagaimana film ini nggak cuma menyoroti sisi gelap dunia digital, tapi juga eksplorasi psikologisnya. Adegan-adegan di mana dia berusaha mempertahankan persona online-nya sementara kehidupan nyatanya berantakan—itu bikin merinding. Film ini seperti cermin buat kita yang hidup di era di mana validasi online kadang terasa lebih penting daripada kenyataan.