Pernah ngerasain tekanan buat selalu terlihat sempurna di media sosial? 'Under the Influence' itu kayak tamparan keras buat generasi yang kecanduan likes. Aku nggak bisa berhenti memperhatikan detail-detail kecil, seperti bagaimana kamera menangkap ekspresi kosong si karakter utama setiap kali dia selesai merekam konten palsunya.
Yang bikin film ini beda adalah cara penyutradaraannya yang nggak menggurui. Alih-alih menghakimi, film ini justru mengajak kita memahami kompleksitas di balik keputusan karakter utamanya. Ada momen di mana dia terlihat benar-benar sendirian di tengah ribuan komentar—adegan itu yang paling ngena buatku.
Bayangkan punya ribuan pengikut tapi nggak ada yang benar-benar kenal kamu. 'Under the Influence' bercerita tentang dilema itu dengan jujur. Awalnya kupikir ini bakal jadi film drama biasa tentang influencer, tapi ternyata lebih dalam dari itu. Film ini menunjukkan bagaimana obsesi terhadap angka—viewers, likes—bisa mengikis kemanusiaan seseorang. Adegan klimaksnya di mana karakter utama akhirnya menghadapi konsekuensi dari semua kebohongannya bikin ngeri sekaligus tragis.
Ada sesuatu yang sangat menggigit tentang 'Under the Influence' yang bikin aku terus mikir bahkan setelah menontonnya. Ceritanya mengikuti seorang influencer media sosial yang terjebak dalam lingkaran toxic dari ketenaran dan ekspektasi pengikutnya. Awalnya terlihat glamor, tapi perlahan-lahan kita melihat bagaimana karakter utamanya kehilangan identitas aslinya demi engagement.
Yang paling menarik adalah bagaimana film ini nggak cuma menyoroti sisi gelap dunia digital, tapi juga eksplorasi psikologisnya. Adegan-adegan di mana dia berusaha mempertahankan persona online-nya sementara kehidupan nyatanya berantakan—itu bikin merinding. Film ini seperti cermin buat kita yang hidup di era di mana validasi online kadang terasa lebih penting daripada kenyataan.
2026-05-10 18:25:26
8
Leer todas las respuestas
Escanea el código para descargar la App
Related Books
Jangan Lakukan Ini, Kalian Itu Sepupuku!
Runayanti
10
36.3K
Warning (Area 21+) Mohon untuk tidak membaca di tempat umum.
“Pe—pelan sedikit…”
“Kamu sadar ‘kan… kita sepupuan?”
“Kalau iya, memangnya kenapa?”
"Kamu Nakal..."
Kunjungan pertamaku ke keluarga besar ibu tiri seharusnya menjadi momen hangat dan penuh silaturahmi. Tapi siapa sangka, di balik keramahan mereka, tersimpan godaan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.
Tiga sepupu perempuanku–yang satu dingin dan menantang, yang satu lembut dan penuh perhatian, dan yang satunya lagi diam namun berbahaya–mulai membuatku kehilangan kendali.
Ketiganya sama cantik, tubuh mereka yang sintal dan padat dengan sisi kedewasaan penuh, selalu bisa membuat pria tulen seperti diriku mengalami kesulitan untuk bertahan dari godaan.
"Aku tahu kami sepupuan, tapi saat mereka mendekat dan bertindak seakan aku milik mereka, aku mulai bertanya, sampai kapan aku bisa menahan diri?"
Tatapan, sentuhan kecil, hingga bisikan samar di malam hari, perlahan mengaburkan batas antara keluarga dan hasrat.
Kupikir aku bisa menahan diri, sampai malam terakhir sebelum kepulanganku… saat semuanya berhenti menjadi sekadar godaan.
"Jika aku diberi kesempatan untuk lahir kembali.. aku tidak ingin menjadi istrimu, mas. Aku tidak mau menjadi orang ketiga diantara hubunganmu dengannya. Kamu pantas bahagia."
"Lalu kenapa aku harus jatuh cinta padamu diujung perpisahan kita?"
***
Indah sudah putus asa akan hubungannya dengan suaminya. Ia pasrah ketika Biru memberikan talak tiga dan mengakhiri kisah rumah tangga mereka.
Tapi kenapa cinta malah terbit di hati Biru ketika perpisahan mereka diujung mata?
Sedangkan mereka sudah tak memiliki jalan untuk kembali bersama..
Kinara terpaksa memenuhi permintaan terakhir ayahnya untuk menikah dengan lelaki pilihan sang ayah, Aditama Prawira, seseorang yang tidak ia kenali, apalagi cintai. Pernikahan tanpa arah, tidak ada cinta dan gairah. Namun, seiring waktu perasaan itu mulai tumbuh. Sayangnya, hadirnya mantan kekasih Aditama justru hadir menguji pernikahan mereka!
Nadia ingin berbagi kebahagiaan atas kehamilannya pada kedua orang tua dan Nabila saudaranya. Betapa terkejutnya Nadia saat melihat keluarganya bahagia atas kehamilan Nabila yang ia ketahui belum menikah, dan yang lebih mengejutkan lagi lelaki yang menjadi ayah dari anak yang dikandung Nabila adalah Rama suaminya. Talak akhirnya terucap dari bibir Rama.
Nadia pergi dalam kekalutan hingga mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dia keguguran. Nadia yang merasakannya sakit raga dan hatinya masih harus berhadapan dengan Gio pemilik mobil mewah yang ia tabrak. Dan sebagai ganti rugi yang tak sedikit Gio meminta Nadia menjadi istrinya. Padahal Gio adalah pemilik perusahaan tempat Rama bekerja.
Terbesit balas dendam, tapi ternyata menikah dengan Gio bagaikan memasuki neraka dunia yang lain.
Season 1 dan Season 2, SELESAI!
"Kamu menidurinya?”
“Aku sama sekali tidak tidur dengannya!"
“Lying and cheating don't just happen. It's a deliberate choice, so stop hiding behind the word 'mistake.' When you get caught.”
-Di saat kebohongan itu berbahaya, mengancam segala apa yang kamu miliki sekarang-Naufal Richard Smith. Begitu nama lengkap dari seorang aktor yang disapa Falri. Namanya menjulang tinggi di dunia perfilm-an. Selain good looking, Falri dikenal sebagai aktor good attitude. Semua orang mengidolakannya.Ada satu hal yang tidak diketahui penggemarnya sampai saat ini. Kesalahan fatal yang dilakukan Falri di masa SMP bersama Jeslyn, kekasih cinta monyetnya. Kesalahan yang mengakibatkan dirinya diusir dari rumahnya sendiri, dan harus luntang-lantung di jalanan sebelum menjadi aktor sukses.Di saat kebohongan terbongkar. Kesuksesannya langsung mencuat turun. Tidak ada lagi sang penggemar. Tidak ada lagi kerjasama kontrak kerja. Tidak ada lagi yang menemaninya.Ini semua gara-gara dia!
Ada sesuatu yang magnetis tentang bagaimana 'Under the Influence' menggali kompleksitas hubungan manusia di era digital. Serial ini bercerita tentang seorang influencer yang hidupnya berubah drastis setelah bertemu dengan seorang penggemar misterius. Awalnya, interaksi mereka terlihat biasa—komentar di media sosial, DM yang ramah—tapi perlahan, garis antara pengagum dan penguntit mulai kabur. Yang menarik, serial ini tidak sekadar tentang ketakutan klasik; ia menyentuh persoalan identitas online vs. realita, bagaimana kita memproyeksikan diri di layar, dan dampaknya pada kesehatan mental.
Plotnya berbelok dengan cerdik ketika sang influencer menyadari bahwa penggemar itu mungkin lebih mengenalnya daripada orang-orang di sekitarnya. Adegan-adegan suspense dibangun dengan pacing yang pas, sambil menyelipkan kritik halus tentang budaya 'like' dan validasi virtual. Aku suka bagaimana karakter utamanya tidak digambarkan sebagai korban pasif, tapi seseorang yang berjuang mengambil kendali—meski akhirnya pertanyaannya tetap: sampai di titik mana kita benar-benar bisa mengendalikan narasi hidup sendiri?
Film 'Under the Influence' bercerita tentang perjalanan seorang influencer sosial media yang terjebak dalam dunia glamor dan tekanan untuk terus menghasilkan konten viral. Awalnya, karakter utama menikmati ketenaran dan keuntungan finansial, tetapi perlahan-lahan mulai kehilangan jati diri. Film ini menggali sisi gelap dari kehidupan digital, seperti kecanduan validasi online, persaingan toxic, dan dampak mental yang tidak terlihat. Adegan-adegannya seringkali menyentuh karena menyajikan konflik batin yang relatable bagi generasi muda.
Yang menarik, film ini tidak hanya kritik sosial tapi juga punya lapisan emosional yang dalam. Karakter utamanya digambarkan sebagai sosok kompleks—di satu sisi haus pengakuan, di sisi lain rindu keautentikan. Plot twist di akhir tentang bagaimana dia memutuskan untuk 'keluar' dari lingkaran toxic menjadi klimaks yang memuaskan. Film ini cocok buat yang suka cerita tentang human vs technology dengan sentuhan drama psikologis.
Menyelami 'Under the Influence' itu seperti membuka pintu ke dunia di mana media sosial bukan sekadar alat, tapi panggung di mana identitas dan kebenaran saling bertabrakan. Serial ini menggali bagaimana kehidupan seorang influencer bisa terlihat glamor di permukaan, tapi sebenarnya dipenuhi tekanan untuk terus mempertahankan citra yang sempurna. Aku terpukau dengan cara ceritanya mengungkap sisi gelap dari ketenaran digital—mulai dari obsesi terhadap like, komentar pedas yang menghancurkan mental, sampai manipulasi konten demi engagement.
Yang bikin menarik, serial ini juga menyentuh soal bagaimana audiens sering lupa bahwa apa yang mereka lihat di layar adalah versi yang sudah difilter. Adegan di episode 4 ketika karakter utama breakdown karena merasa dikhianati oleh angka-angka di layar benar-benar bikin merinding. Ini bukan sekadar drama tentang popularitas, tapi semacam cermin buat kita semua yang terjebak dalam siklus validasi online.