Dari sudut pandang orang yang cukup dekat dengan keluarga mereka, ceritanya lebih kompleks dari sekadar perbedaan visi. Aku dengar dari tetangga mereka bahwa ada masalah kepercayaan yang menggerogoti hubungan. Pak Edward sering pulang larut malam dengan alasan meeting, tapi ada indikasi bahwa dia berselingkuh dengan rekan kerjanya. Sang istri awalnya mencoba memaafkan, tapi rasa sakitnya terus menumpuk.
Di sisi lain, tekanan sosial juga bikin runyam. Keluarga besar dari kedua belah pihak ikut campur terlalu dalam, sampai-sampai setiap argumen kecil bisa jadi bahan perdebatan besar. Aku lihat sendiri bagaimana mereka perlahan kehilangan chemistry-nya. Pernah suatu kali, di acara keluarga, mereka duduk berjauhan dan sama sekali tidak saling menyapa. Rasanya seperti melihat dua orang asing yang terjebak dalam satu rumah.
Ada sebuah momen ketika aku sedang scroll timeline media sosial dan tiba-tiba muncul berita tentang perceraian Pak Edward dan istrinya. Aku langsung penasaran dan mencoba mencari tahu lebih dalam. Dari beberapa sumber yang kuterima, konflik utama mereka bermula dari perbedaan visi tentang masa depan. Pak Edward lebih ingin fokus pada bisnis dan ekspansi ke luar negeri, sementara sang istri menginginkan kehidupan yang lebih stabil dan sederhana di kampung halaman.
Ketegangan ini diperparah oleh jarak yang semakin jauh karena pekerjaan Pak Edward. Mereka jarang bertemu, dan komunikasi menjadi sangat formal. Aku pernah baca di sebuah forum bahwa sang istri merasa diabaikan, sementara Pak Edward merasa tidak dihargai usahanya. Perceraian mungkin menjadi jalan terakhir setelah berbagai upaya rekonsiliasi gagal. Sedih sih, tapi kadang dua orang memang tumbuh menjadi arah yang berbeda.
Kalau menurut analisisku yang suka ngulik psikologi hubungan, perceraian mereka adalah hasil dari akumulasi konflik kecil yang tidak pernah terselesaikan. Aku baca di suatu artikel bahwa Pak Edward adalah tipe workaholic, sementara istrinya lebih membutuhkan emotional presence. Mereka tidak pernah belajar untuk bicara secara vulnerabel tentang kebutuhan masing-masing.
Misalnya, sang istri ingin quality time, tapi Pak Edward menganggap memberikan materi sudah cukup. Lama-lama, sang istri merasa seperti hidup sendiri. Di satu titik, dia memutuskan untuk berhenti mengeluh dan mulai menarik diri. Ketika Pak Edward menyadarinya, sudah terlambat. Hubungan mereka seperti tanaman yang layu karena tidak pernah disiram. Kadang, cinta memang butuh lebih dari sekadar niat baik.
2026-07-20 11:48:41
1
View All Answers
Scan code to download App
Related Books
Pak Edward, Istrimu Ingin Cerai
Elenor
8.5
8.2M
Setelah menikah selama tujuh tahun, Edward tetap saja begitu dingin, Clara hanya bisa menghadapinya dengan tersenyum.
Semua karena dia sangat mencintainya.
Dia juga percaya suatu hari nanti, dia bisa melelehkan es di dalam hatinya.
Akan tetapi pada akhirnya Edward malah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap cewek lain.
Clara tetap bersikeras menjaga rumah tangganya.
Hingga di hari ulang tahunnya, putrinya yang baru saja pulang dari luar negeri, dibawa oleh Edward untuk menemani cewek itu, meninggalkannya sendirian di rumah kosong.
Dia akhirnya putus asa.
Melihat putri yang dibesarkannya sendiri akan menjadi anak dari cewek lain, Clara tidak merasa sedih lagi.
Dia menyiapkan surat cerai, menyerahkan hak asuh anaknya, dan pergi dengan gagah, tidak pernah menanyakan kabar Edward dan anaknya lagi, hanya menunggu proses perceraian selesai.
Dia menyerah atas rumah tangganya, kembali ke dunia bisnis, dan akhirnya dirinya yang sebelumnya diremehkan semua orang menjadi kaya raya.
Akan tetapi setelah menunggu sekian lama, proses perceraian masih tidak selesai. Bahkan, pria yang biasanya tidak suka pulang ke rumah malah berubah menjadi sering pulang ke rumah, dan menjadi makin lengket dengannya.
Setelah mengetahui bahwa Clara mau bercerai dengannya, pria yang biasanya dingin langsung menahannya ke dinding: "Cerai? Nggak mungkin."
Novel ini membawa kita kisah tentang pasangan yang menikah untuk jangka waktu tertentu. Pria tidak memiliki keterikatan emosional terhadap pasangan wanita. Baginya, dia hanyalah tubuh yang bisa dia gunakan kapan saja dia mau.
Gadis di sisi lain menandatangani kontrak pernikahan dan awalnya berpikir bahwa dia akan dapat menarik pria itu pada akhirnya. Tiga tahun telah berlalu dan tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa dia berhasil dalam rencananya.
Dengan hanya satu tahun tersisa dalam kontrak pernikahan yang akan berakhir. Titik perceraian mendekat lebih cepat dari yang dia kira. Karena konsepsi anak-anak dilarang keras menurut kontrak, pilihan untuk gadis itu terbatas.
Pria dengan penampilan tampan dan aurora yang kuat menunjukkan sikap dingin terhadapnya. Pasca tiga tahun, tidak ada kehangatan dalam kata-kata atau perilaku sama sekali. Setelah jangka waktu berakhir, mereka akan berpisah.
Saat ini, gadis itu tidak memiliki hak atas harta dan uang dari pria yang berkuasa dan kaya ini. Setelah hubungan putus, kondisinya akan semakin jauh. Suami yang menyendiri akan melupakannya untuk selamanya.
Istriku yang Meminta Cerai Berkali-kali Demi Pria Lain
Penyihir
0
1.3K
Aku menikah tujuh kali dengan wanita yang sama.
Demi cinta pertamanya, dia juga bercerai denganku tujuh kali.
Saat pertama kali menikah, dia berkata kepadaku, "Aku hanya akan mencintaimu seorang dalam sisa hidupku."
Namun, setiap kali cinta pertamanya pulang ke negara ini, dia langsung mengubah narasinya, "Bisa nggak kamu lebih dewasa sedikit? Apa kamu harus buat Roderick menanggung tuduhan menggoda istri orang?"
Saat perceraian pertama, aku mengiris pergelangan tanganku untuk memaksanya tetap tinggal. Aku dibawa ambulans ke rumah sakit, tapi dia bahkan tidak datang menjengukku sekali pun.
Saat perceraian ketiga, aku merendahkan gengsiku dan melamar sebagai asisten di perusahaannya, hanya agar punya kesempatan untuk lebih sering melihatnya.
Saat perceraian keenam, aku sudah belajar untuk membereskan barang-barangku sendiri dengan patuh dan pindah dari rumah pernikahan kami.
Sikapku yang kehilangan kendali, semua pengorbanan dan kepatuhanku ... hanya berujung dengan keputusannya untuk rujuk denganku berulang kali. Trik lama itu terus-menerus digunakannya berkali-kali.
Sampai kali ini, setelah aku menerima kabar bahwa cinta pertamanya akan segera kembali, aku sendiri yang menyerahkan surat perjanjian cerai ke tangannya.
Seperti biasa, dia menetapkan waktu untuk menikah lagi denganku. Namun dia tidak tahu, kali ini aku akan benar-benar pergi.
"Sampai kapanpun tidak ada perceraian di antara kita, sekalipun kau menangis dan memohon, Elizabeth!"
Selama tiga tahun menikah, Elizabeth Lawrence tidak pernah mendapatkan perhatian sedikitpun dari sang suami yang selalu bersikap dingin. Dinikahi oleh Evander Collin, seorang CEO ternama yang berstatus duda beranak satu, membuat hidup Elizabeth berada dalam kekangan pernikahan yang menderita.
Apalagi setelah kedatangan mantan istrinya, dan kabar dari sang mertua bahwa Evander akan kembali rujuk. Kedekatan sang suami dan mantan istrinya hari demi hari membuat Elizabeth tersiksa. Elizabeth semakin merasa terabaikan dalam keadaan sakit-sakitan. Malangnya, di saat bersamaan, dokter memvonis bahwa ternyata Elizabeth menderita penyakit leukemia stadium dua.
Setelah tekanan demi tekanan yang Elizabeth alami, wanita itu mulai tak sanggup. Elizabeth memberikan sebuah dokumen perceraian pada sang suami. Tapi ternyata, tak semudah seperti yang Elizabeth bayangkan.
Suaminya menolak, dia tidak ingin berpisah, dan bersikeras ingin terus bersama!
Elena, seorang wanita cerdas menjadi bodoh setelah bertahun-tahun terjebak dalam cinta sepihak bersama dengan suaminya.
Dia meninggalkan dunia cemerlangnya sebagai seorang nona muda kaya hanya untuk mengejar cinta dari suaminya, Marco Sebastian.
Di malam hari jadi pernikahannya, Elena datang ke kantor sang suami untuk memberi kejutan. Namun siapa yang sangka jika di malam itu bukan suaminya yang terkejut, namun dia yang mendapatkan kejutan hebat.
"Setelah hari-hari yang aku habiskan untuk mengejarmu, ternyata ini yang kau lakukan di belakangku! Kau bilang wanita itu hanya sekretarismu, tapi ternyata wanita ini tidak lebih dari seorang pelacur untuk menyenangkanmu! Aku membencimu, Marco!" teriak Elena penuh kemarahan, menatap suaminya dengan pandangan penuh kebencian, sebelum akhirnya berlari meninggalkan suaminya yang tertegun, dengan kue anniversary yang hancur berserakan di lantai.
Elena berlari tanpa arah, didorong oleh rasa frustrasi dan sakit hati yang mendalam. Pikirannya yang kosong membawanya pada pemikiran untuk menabrakkan diri ke mobil yang melintas di jalan, sebagai cara untuk mengakhiri semua kekacauan dan rasa sakit yang dia rasakan dalam hidupnya.
"Aku tidak ingin mencintaimu lagi, Marco!" lirih Elena menangis, sebelum tubuhnya terpental keras di atas jalanan aspal, dengan darah yang mengalir setelah dirinya tertabrak oleh mobil.
Edwin dipaksa menikahi seorang wanita yang ternyata tengah hamil 5 bulan. Keduanya terlibat dalam hubungan rumah tangga yang tidak sehat dimana, hanya ada kebencian dan pertengkaran di dalamnya.
Edwin membenci Melati yang sombong dan otoriter. Saat dirinya terus memupuk kebenci, masalah terus hadir.
Pernikahan Pak Edward dan istrinya seperti dua puzzle yang dipaksa menyatu tapi bentuknya nggak cocok. Aku pernah baca artikel tentang mereka di majalah, dan konfliknya mirip banget dengan plot di drama 'The World of the Married'. Masalah utamanya? Komunikasi yang udah mati sebelah. Mereka sibuk dengan karir masing-masing sampai lupa ngobrol dari hati ke hati. Istrinya yang pengusaha katering sering keluar kota, sementara Pak Edward yang dosen lebih nyaman dengan rutinitas kampus. Lama-lama, jarak emosionalnya melebar kayak jurang.
Yang bikin sedih, mereka sebenernya masih saling peduli, tapi gaya ekspresinya beda banget. Pak Edward lebih suka diam-diam ngeladenin, sementara istrinya butuh afirmasi verbal. Aku inget adegan pas mereka bertengkar soal acara ulang tahun anak—itu cuma puncak gunung es. Mereka nggak bisa nemuin common ground lagi, dan perceraian kayaknya jadi satu-satunya jalan buat berhenti saling menyakiti.
Melihat hubungan Pak Edward dan istrinya dari luar, banyak yang mengira mereka pasangan ideal. Tapi ternyata, jarak emosional yang terbangun selama bertahun-tahun membuat mereka seperti hidup dalam dua dunia berbeda. Perceraian itu datang setelah mereka menyadari bahwa terus memaksakan kebersamaan justru menyakiti satu sama lain.
Aku ingat obrolan dengan tetangga yang bercerita bagaimana mereka berdua sebenarnya sudah mencoba konseling pernikahan, tapi perbedaan visi tentang masa depan—terutama soal parenting dan prioritas hidup—terlalu besar untuk dijembatani. Kadang, melepaskan memang pilihan terbaik ketika cinta tak lagi cukup untuk menyatukan dua orang yang sudah tumbuh ke arah berbeda.
Baru-baru ini, dunia hiburan digemparkan oleh kabar perceraian Pak Edward dan istrinya. Awalnya, mereka terlihat begitu harmonis di berbagai acara televisi, bahkan sempat menjadi pasangan selebriti yang sering dijadikan panutan. Namun, belakangan ini, mulai muncul isu-isu tentang ketidakcocokan di antara mereka. Beberapa sumber dekat mengungkapkan bahwa masalah finansial dan perbedaan visi tentang masa depan menjadi pemicu utama. Mereka akhirnya memutuskan untuk berpisah secara baik-baik, meskipun proses hukumnya masih berjalan.
Yang menarik, banyak fans yang merasa kecewa karena mereka selalu menganggap pasangan ini sebagai simbol cinta yang abadi. Tapi, ya, kehidupan rumah tangga memang tidak selalu seindah yang terlihat di layar kaca. Aku sendiri cukup terkejut karena mereka selalu terlihat kompak di media sosial.
Ada satu momen dalam 'Edward & Bella' yang bikin aku ngerasain gelombang emosi campur aduk. Awalnya, mereka terlihat seperti pasangan ideal—sampai tiba-tiba Edward mulai menarik diri. Bella yang biasanya bisa membaca ekspresinya seperti buku terbuka, mendadak bingung dengan sikap dinginnya. Aku inget betul adegan di mana Edward bilang, 'Aku nggak bisa ngelakuin ini lagi,' dengan nada datar yang bikin bulu kuduk berdiri. Bella awalnya kaget, lalu marah, sampai akhirnya nangis di depan rumahnya. Prosesnya nggak instan; ada tahapan denial, pertengkaran, bahkan upaya Bella buat negosiasi ulang hubungan mereka. Yang bikin sedih, Edward tetap on decision-nya meskipun jelas-jelas masih cinta.
Justru karena itu, cerai mereka terasa lebih realistis daripada kebanyakan drama romantis. Nggak ada villain atau skandal—cuma dua orang yang sadar jalan mereka udah nggak searah. Endingnya pun nggak nekat balikan atau benci abadi. Mereka tetap respect satu sama lain, which is kinda rare di cerita fiksi.