Ada momen dalam hidup di mana kita mencari kekuatan lebih dari sekadar usaha fisik. Beberapa pasangan, termasuk saya dan istri, pernah melalui fase ini—mengharapkan kehadiran buah hati sambil merangkul doa sebagai bagian dari ritual harian. Dalam Islam, contohnya, doa Nabi Zakaria dalam Al-Qur'an (Surah Ali 'Imran ayat 38) sering jadi rujukan: 'Rabbi hab li min ladunka dzurriyyatan thayyibatan, innaka sami'u du'a' (Ya Tuhan, karuniakanlah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sungguh Engkau Maha Mendengar doa). Saya pribadi menggabungkan doa ini dengan shalat tahajud dan membaca Surah Yusuf, yang konon membawa berkah untuk harapan punya anak. Tapi lebih dari sekadar kata-kata, yang paling saya pegang adalah konsistensi dan keyakinan bahwa setiap doa punya waktu tersendiri untuk dijawab.
Selain itu, saya juga belajar dari pengalaman teman yang mencoba pendekatan berbeda. Ada yang rutin mengunjungi makam orang saleh sambil berdoa, atau bahkan menuliskan permohonan di buku harian sebagai bentuk ikhtiar batin. Psikologis istri juga jadi pertimbangan utama; saya sering mengajaknya diskusi terbuka tentang harapan dan kekhawatirannya, karena tekanan mental justru bisa jadi penghalang. Kombinasi antara doa, usaha medis jika diperlukan, dan dukungan emosional inilah yang akhirnya membawa kami pada kabar gembira setelah dua tahun penantian.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan selain berdoa dengan tulus. Pertama, coba bangun kedekatan emosional lebih dalam dengan pasangan. Percakapan heart-to-heart tentang impian menjadi orang tua seringkali menciptakan energi positif.
Kedua, beberapa teman merekomendasikan aktivitas bersama seperti gardening atau memelihara tanaman. Ada keyakinan simbolis bahwa merawat kehidupan kecil bisa memantik energi kesuburan. Tapi yang paling penting tentu konsultasi ke dokter kandungan untuk memastikan kondisi kesehatan reproduksi kalian berdua.