Ada sesuatu yang magis tentang bagaimana kegiatan sederhana bisa menjadi momen berharga ketika dilakukan bersama keluarga. Di rumah kami, memasak bersama selalu jadi favorit—entah itu mencoba resep baru atau sekadar membuat kue kering di akhir pekan. Prosesnya seringkali berantakan, tapi justru di situlah kenangan terbentuk. Kami juga punya ritual unik: setiap bulan, kami memilih satu film klasik seperti 'The Sound of Music' atau 'Studio Ghibli', lalu mendiskusikannya sambil ngemil popcorn. Aktivitas fisik seperti bersepeda ke taman atau bermain board game sampai larut malam juga sering kami lakukan. Kuncinya bukan pada jenis aktivitasnya, tapi pada kehadiran dan tawa yang mengisi setiap detiknya.
Hal lain yang kami prioritaskan adalah 'tech-free time'. Tanpa gadget, kami bisa benar-benar terhubung—bercerita tentang hari masing-masing, atau sekadar duduk di teras melihat langit malam. Kadang, quality time itu justru muncul dari hal-hal tak terduga: membantu anak mengerjakan proyek sekolah, atau berdebat seru tentang ending sebuah novel yang kami baca bersama.
Ada satu sudut di Jakarta yang selalu berhasil membuatku merasa tenang meski kota ini super sibuk: Perpustakaan Nasional. Tempatnya luas, sejuk, dan koleksi bukunya lengkap banget. Aku suka menghabiskan waktu di lantai atas dekat jendela, sambil baca novel atau komik favorit. Pemandangan kota dari ketinggian bikin pikiran jadi lebih jernih.
Kalau butuh udara segar, Taman Menteng jadi pilihan kedua. Aku sering bawa buku atau sketchbook ke sana, duduk di bawah pohon yang rindang. Suasana taman yang hijau dan jauh dari keramaian bikin aku bisa benar-benar menikmati me time. Kadang aku juga hunting foto-foto pemandangan ala-ala Jepang di sudut-sudut tersembunyi taman.