Menuju Matahari
“Ini cuma-cuma, Denmas. Tidak perlu bayar.”
Di tepi meja tergeletak sebilah arit besar. Wisnumurti mengambilnya. Terbiasa menangani senjata tajam yang bersifat membunuh, ia menggunakan arit untuk melubangi kelapa tanpa perlu melihat. Dua butir langsung kelar. Yang pertama ia berikan pada Pratiwi dulu.
“O, tidak bisa,” katanya tegas, menggeleng. “Kami harus bayar. Ada uang Pasir. Cukup untuk mengganti semua kerepotan Mbah menyediakan ini pada semua orang.”