PERJAKA NEXT LEVEL
Udara di koridor fakultas ekonomi terasa lebih pengap, bau kopi instan dari mesin penjual otomatis bercampur keringat mahasiswa yang bergegas menuju kelas, dan bisik-bisik seperti hembusan angin panas yang menyusup ke telinga.
“Nob, udah dengar, belum? Kevin pindah kampus!” seru Dika di kantin, mulutnya penuh bakso urat yang mengilap minyak, suara sendoknya beradu dengan mangkuk melamin, berisik. “Katanya ke kampus kecil di kampungnya, gedungnya hanya satu lantai, kantinnya aja cuma jual mie instant. Tragis, Bro! Dari kota ke desa, dari Casanova mentereng jadi playboy kampung, turun kasta dia! Haha.”