Sang Penakluk
Ignar terdiam dan memainkan remote televisi.
“Menurutku, perbedaan pendapat sama ortu emang ngeselin, sih. Tapi mendingan gitu dari pada aku? Cuman punya satu orang tua aja, yaitu mama, dan nggak pernah ngerasain berantem sama bokap.”
Simpati itu mengalir begitu saja dalam hati Ignar.
“Bokap kemana?”
“Meninggal dalam tugas. Dia tentara dan kebetulan tugas di Aceh waktu itu. Hanya karena dia bukan muslim, jadi sasaran teroris. Yah, nasib. Tapi aku bahagia kok hidup sama mama.”