JERAT HASRAT TETANGGA TAMPAN
Aroma cat minyak yang menguar di udara, derap kaki serta suara-suara pengunjung yang datang, serta deretan lukisan di dinding yang memanjakan mata.
“Trims, sudah datang,” Ika, temannya di klub melukis, merenggangkan pelukannya.
“Lukisanmu luar biasa,” puji Andini.
“Ah, bisa aja. Sayang banget kamu enggak mau ikut serta. Padahal lukisan-lukisanmu juga bagus lho,” Ika menyenggol lengan Andini.
Andin menggeleng. “Enggak, aku merasa belum pantas aja memajang lukisanku di sini.”