KELAMBU MERAH JAMBU
Rasa-rasanya itu bukan aku, Anyelir Nuansa Asmara.
"Smile, Anyelir please?" bisikku tersendat, "Keep smile for Kenzy. At least for you, your self and yours fighting at all!"
Entah mengapa, setelah kata-kata yang kubisikkan itu berakhir, aku justu mulai menangis. Benar-benar menangis, tersedu-sedu. Meraung-raung hingga akhirnya terjatuh duduk di lantai, merangkul kedua lutut yang gemetar. Tak ayal, seluruh air mataku tercurah lebat, seperti hujan bulan Desember di Bulak Sumur, Yogyakarta, Indonesia. Banjir.
Chapitres populaires