Jangan Baca Novel Ini!
"Kamu rasakan bedanya, Nara? Di sini suhunya lebih dingin, udaranya bau kertas tua dan pengharum ruangan lemon, suasananya kaku. Tapi justru di tempat kaku seperti inilah, hasrat itu biasanya terasa lebih menajam."
Argan menenggelamkan wajahnya di perpotongan leherku, menghirup aroma tubuhku dalam-dalam sambil tangannya mulai bergerilya di balik kemeja flanelku. Jari-jarinya yang hangat menyentuh kulit perutku, membuatku tersentak kaget dan refleks mencengkeram lengan kursinya.
"Pak... tangan Bapak... dingin banget kena AC..." desisku pelan, berusaha menahan geli dan nikmat yang datang bersamaan.