Dear, Pak Dokter
Ia hanya bingung harus bereaksi seperti apa.
"P-pak?" Reanna berucap lirih, suaranya teredam dada bidang Sang calon suami. Dalam kondisi seperti itu, secara spontan ingatannya kembali pada malam ketika Nathan memiliki dirinya seutuhnya. Pipinya memanas seketika, apalagi ketika aroma parfum maskulin pria itu mulai memasuki hidungnya.
"No." Masih dalam posisi saling mendekap, Nathan menggeleng, mengoreksi. "Panggil aku 'Mas', Rea. Kita akan segera menikah, kamu ingat?"