LOGINSudah satu tahun Tsabita humayrah atau yang biasa di sapa Humey merasa frustrasi dengan dunia yang dijalaninya. Suami yang harusnya menjadi rumah malah menjadi neraka bagi dirinya. Ia kerap mendapatkan tamparan, makian, hinaan, bahkan diperlakukan layaknya pembatu padahal suaminya ada seorang yang dikenal sangat patuh dalam beragama. Ia masih bertahan karena berharap masih ada sedikit cahaya dari perjodohan dia dengan suaminya Zayyan faisal yang dulu telah menolong keluarganya keluar dari kegelapan, tapi sampai sekarang cahaya itu masih tenggelam seperti tak pernah muncul di permukaan. Di balik setahun penderitaannya hadirlah Eyman Ashar— ipar yang baru kembali dari penugasan selalu menatapnya dengan kelemah lembutan di setiap perjumpaan. Eyman selalu memberikan sapaan manis dan senyuman hangat yang mampu menggetarkan jiwa Humey. Dari balik tatapan neraka sang suami Humey menemukan tatapan yang berbalik 180 derajat dari iparnya sendiri yang mampu memporak-porandakan jiwa dan dunia Humey.
View MorePranggggg....
Piring keramik itu hancur berkeping-keping. Bunyi yang terlampau familier bagi Humey, meremukkan jiwanya di pagi hari.
"kamu ngerti masak gak sih? hah? kenapa masakan kamu selalu gak bener, gak pernah enak, gak pernah kayak masakan mama."
Suaranya menggelegar, memenuhi setiap sudut ruangan yang sesak. Humey hanya bisa menunduk, membiarkan bahunya bergetar hebat.
"Maaf, Mas. Aku sudah berusaha sebaik mungkin mengikuti resepnya," bisik Humey bergetar.
Ia berlutut di lantai yang dingin. Jemarinya yang gemetar mulai memungut pecahan tajam itu satu per satu dengan terburu-buru.
"Nangis terus! Gak ada yang kamu bisa selain itu. Capek aku liat kamu!"
"Maafin aku, Mas," ujar Humey menahan sesak di dada.
"Maaf terus, tapi gak pernah diperbaiki!"
Zayyan melangkah mendekat, bayangannya menelan tubuh kecil Humey. Ia mencengkeram lengan istrinya, lalu mencubitnya keras hingga Humey memekik tertahan. Rasa perih yang tajam menjalar dari kulit lengannya hingga ke saraf-saraf kepalanya.
"Kalau gak bener belajar jadi istri, aku kurung kamu di ruang gelap!" ancam Zayyan tajam.
"I-iya, Mas. Aku minta maaf," jawab Humey pasrah.
"Bagus. Aku berangkat, gak usah diantar. Hapus air mata kamu, jangan sampai orang lain kira aku jahat."
Zayyan melengos pergi begitu saja tanpa menoleh lagi. Begitu pintu tertutup, Humey jatuh terduduk di lantai. Pertahanannya runtuh sepenuhnya. Ia merangkak ke kamar, mengunci pintu, dan membiarkan isak tangisnya pecah memenuhi ruangan.
Setelah kepergian suaminya Humey langsung berhambur ke kamar dan menatap cermin dia menagis sejadi-jadinya seolah sedang menumpahkan semua kekecewaan, rasa marah, dan rasa sedihnya pada seseorang padahal yang di tatap hanya diri dia sendiri,
Kemudian Humey melihat tangannya yang dicubit oleh suaminya, memerah, seperti biasa selalu begini batin Humey, rasa sakit yang tadinya ia tahan rasanya sudah mencapai hatinya.
Bukan cuma fisiknya yang sakit, tapi batin Humey juga merasa perih dengan segala yang ia alami saat ini. ia oles bekas cubitan itu dengan obat agar tak terlalu membiru nanti.
Setelah itu, ia mengambil air whudu. Melaksanakan salat Duha’ adalah satu-satunya pelabuhan yang ia miliki di rumah ini.
"Ya Allah, lembutkanlah hati suamiku. Lapangkanlah dadanya. Aku tak mampu jika harus begini setiap hari."
Air matanya jatuh membasahi sajadah.
"Bahkan di hari ulang tahun pernikahan kami, ia memperlakukanku seburuk ini."
Humey termenung di atas sajadah. Sudah setahun ia hidup dalam neraka ini.
Setelah sholat dia kembali merenung di atas meja, memperhatikan kalender yang ada disana, sudah setahun ternyata penderitaan yang ia alami, tapi suaminya tak pernah memperlakukan ia dengan baik.
Selalu saja ada yang salah bagi Humey, entah apapun itu tetap Humey yang disalahkan, Humey tak pernah melawan karna baginya suami adalah surganya sekarang, tapi di bagian terkecil hatinya ia masih bertanya-tanya, apakah surga seperti ini pantas ia taati.
Ia teringat masa kecilnya.
Rumah besarnya di Kalimantan adalah sebuah benteng, bukan sekadar tempat tinggal.
Abahnya, pimpinan pesantren terkemuka, selalu mendidiknya dengan tangan besi.
"Humey, dunia luar itu penuh fitnah," suara tegas Abahnya selalu terngiang di kepalanya setiap kali ia menatap pagar tinggi rumah mereka.
"Abah tidak ingin dihisab karena gagal menjagamu, Nak. Surga itu mahal, dan kau adalah amanah yang harus Abah jaga tetap suci."
Saat itu, Humey kecil hanya bisa mengangguk meski ia sering kali menatap anak-anak tetangga yang tertawa bebas di jalanan dengan perasaan iri.
Ia tak punya teman. Dunianya hanya Abah, Umi, dan tumpukan kitab.
Uminya, wanita lulusan Al-Azhar Kairo yang anggun, adalah satu-satunya pelabuhan hatinya.
Suatu sore, saat mereka duduk di ruang tengah, Umi membelai rambut Humey dengan lembut.
"Humey, sayang," bisik Umi sambil menatap matanya dalam-dalam. "Kelak, saat kau menikah, kunci surgamu berpindah tangan."
"Maksud Umi?" tanya Humey polos saat itu.
"Taatmu pada suami adalah cerminan taatmu pada Tuhan," jawab Umi dengan nada tenang namun mutlak.
"Jika suamimu rida, maka pintu surga akan terbuka lebar untukmu. Ingat itu, Humey. Jangan pernah membantah, jangan pernah berani menatapnya dengan nada tinggi."
Humey memegang erat ajaran itu hingga ke tulang sumsumnya.
Bagi Humey, perintah suami adalah perintah Tuhan.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa ajaran yang bertujuan membawanya ke surga justru menjadi belenggu yang menyeretnya ke neraka dunia.
Di rumah ini, ia menerapkan semua ajaran itu dengan sempurna.
Ia melayani Zayyan layaknya raja, menelan makian sebagai ujian kesabaran, dan memaafkan cubitan sebagai bentuk pendewasaan diri.
Namun, air mata yang jatuh ke pangkuannya setiap hari membuat Humey bertanya-tanya.
Jika aku sudah patuh, jika aku sudah taat, lalu di mana letak rida yang dijanjikan itu?
Apakah Tuhan benar-benar rida melihat hamba-Nya dihancurkan di balik topeng kepatuhan?
Pertanyaan itu tertahan di tenggorokan, terkubur bersama rasa takut yang kian mencekik.
Humey menjalani hari-harinya layaknya berada di neraka.
Padahal, ia telah mengerahkan seluruh hidupnya untuk menjadi istri yang patuh.
Ia tak pernah membangkang, tak pernah meninggikan suara, bahkan tak pernah berani menuntut kenyamanan.
Namun, balasan yang ia terima hanyalah bentakan, cacian, makian, hingga hantaman fisik yang membiru di sekujur tubuhnya.
Humey sering tertunduk di atas sajadah, menengadahkan tangan dengan gemetar.
"Ya Allah, di mana pertolongan-Mu?" bisiknya lirih di antara isak tangis.
Namun, setiap kali keraguan itu muncul, ia segera beristigfar berkali-kali.
Ia takut mempertanyakan takdir dianggap sebagai bentuk kufur nikmat.
"Maafkan aku, Ya Allah," ucapnya sambil memeluk diri sendiri. "Aku hanya berharap suamiku segera melunakkan hatinya."
Humey mencoba memaklumi segalanya.
Ia selalu mengulang satu alasan yang sama dalam kepalanya: Pernikahan ini adalah perjodohan.
Mungkin itulah alasan Zayyan begitu membencinya.
Ia hanya ingin taat pada kedua orang tuanya, karena ia takut Tuhan akan murka jika ia membantah mereka.
Jika ini jalan yang dipilihkan Abah dan Umi, maka ini pasti yang terbaik, bisiknya mencoba menguatkan diri.
Meski realitanya, ia tak pernah merasakan pelukan hangat seorang suami, melainkan hanya rasa sakit yang membekas.
Sore itu, setelah puas merenungi nasibnya, Humey meraih ponsel.
Ia bersyukur bahwa mertuanya bukan seperti mertua dari novel yang ia baca. Mertuanya atau yang kerap ia sapa dengan panggilan mama mampu menyejukkan hati humey di tengah gelisah hidup yang ia jalani.
"Assalamualaikum, Mama cantik."
"Waalaikumsalam, sayang. Wah, tumben telepon. Mau tanya resep lagi, ya?"
Humey tersenyum getir, mencoba menetralkan suaranya.
"Eh, iya, Ma. Maaf ya selalu merepotkan."
"Nggak apa-apa, sayang. Mama senang kok kamu telepon. Memangnya mau tanya resep apa?"
Humey menarik napas panjang, menahan getaran di tenggorokannya.
"Resep dimsum yang kemarin, Ma. Kok rasanya beda ya dari buatan Mama? Apa ada yang salah sama takaran bumbunya?"
Ia harus menutupi kenyataan bahwa suaminya baru saja menghancurkan sarapannya karena masakan itu.
"Loh, beda kenapa, sayang?"
"Rasanya kurang pas aja, Ma. Apa mungkin merek bahan-bahannya yang beda?"
"Ini siapa nih yang komplain? Kamu atau suami kamu?"
Humey membeku. Jantungnya berdegup kencang.
"E-eh, Humey dong, Ma. Kan Humey mau belajar masak, jadi Humey tanya."
Mama tertawa di seberang sana.
"Sayang, nggak semua masakan itu sama. Kamu masak sudah enak kok, Mama sering coba. Ayam saus mentega kamu itu, enak banget."
Humey menutup mulutnya agar isak tangisnya tak terdengar. Andai saja Zayyan memiliki hati yang sama lembutnya dengan wanita ini.
"Humey sayang, kamu masih di situ?"
"I-iya, Ma. Masih kok."
"Gini aja. Kebetulan Mama habis belanja dan ada stok banyak. Mama buatkan ya, nanti Mama kirim lewat supir. Biar kamu nggak capek."
Humey ragu. Ia takut jika Zayyan tahu, pria itu akan marah besar.
"Apa nggak merepotkan, Ma?"
"Nggak sama sekali. Mama lagi free juga. Nanti kalau sudah jadi, Mama kirim, ya."
"Terima kasih, Ma. Mama baik banget ke Humey."
"Wajar dong. Kamu kan sudah Mama anggap anak sendiri, sama seperti Eyman dan Zayyan."
Ketika nama Eyman disebut. Humey teringat wajah abang iparnya yang lembut dan senyumnya yang teduh.
Seketika, Humey mengucap istighfar berkali-kali. Astaghfirullah, pikirannya mulai melenceng.
"Iya, Ma. Makasih ya, Ma. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Panggilan terputus. Humey terdiam cukup lama sampai azan dzuhur. Namun, tiba-tiba matanya menangkap sesuatu dari jendela.
Sebuah mobil hitam baru saja berhenti di depan pagar. Apakah itu Zayyan yang kembali untuk makan siang?
Humey tersentak. Ia belum menyelesaikan pekerjaan rumahnya.
Jika Zayyan melihat rumah dalam keadaan berantakan, ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ia pun bergegas turun ke lantai bawah, jantungnya berpacu lebih kencang dari sebelumnya.
Humey melajukan mobilnya tanpa tujuan yang pasti, membiarkan kemudi membawanya menjauh dari bayang-bayang masa lalu.Di balik lingkar kemudi, ia memeluk luka batin yang menganga dan memar fisik yang mulai mendingin, menjadi pengingat bisu atas apa yang baru saja ia tinggalkan.Ia tidak memiliki apa-apa; dompet tertinggal, identitas tak lagi berarti, dan dunia seakan mendadak asing.“Aku harus ke mana, ya Allah?” gumamnya lirih, suaranya pecah di antara deru mesin yang mulai terasa lelah.Tepat saat keputusasaan hampir melumpuhkan jiwanya, sayup-sayup suara adzan subuh membelah kesunyian pagi, memanggil dengan nada yang menenangkan di tengah pekatnya gelap.Humey menepikan mobil di pelataran sebuah masjid yang tampak sunyi. Dengan langkah gontai, ia menyeret beban hidupnya masuk ke tempat suci itu.Setelah membersihkan diri dengan air wudhu yang terasa dingin menyentuh kulitnya seolah membasuh sebagian rasa sakit yang melekat,Humey berdiri di atas sajadah. Begitu takbiratul ihram teru
Di balik pintu besi yang membeku oleh karat, Humey meringkuk.Aroma apek tanah lembap bercampur dengan bau debu tua menusuk hidungnya, menciptakan sensasi mual yang tak tertahankan.Ia memeluk lututnya yang gemetar hebat, berusaha meredam suara isakan yang bisa saja memancing iblis di luar sana kembali beraksi.Rasa sakit di perutnya, sisa dari tendangan brutal Zayyan beberapa saat lalu, terasa seperti robekan di bagian dalam tubuhnya.Namun, sesak di dadanya jauh lebih menyiksa daripada luka fisik mana pun.Di luar sana, langkah kaki Zayyan yang tenang dan berirama terdengar menjauh, menyisakan keheningan yang menyesakkan."Nikmatilah kesunyian ini, Sayang," gumam Zayyan dengan nada dingin sebelum langkahnya menghilang sepenuhnya.Pria itu sengaja membiarkan kesunyian menjadi instrumen siksaan bagi istrinya, sebuah taktik psikologis untuk mematahkan mental Humey hingga ke titik nadir.Humey mencoba meraba lantai beton yang dingin, berharap menemukan celah atau benda tajam untuk membu
Setelah kejadian itu, Humey menutup rapat pintu hatinya dan juga harapannya untuk keluar dari sangkar emas ini. Ia enggan lagi bertemu Eyman, baik dalam acara keluarga maupun urusan pribadi.Suatu sore, Eyman datang untuk menjernihkan suasana. "Zayyan, maafin Abang ya. Malam itu Abang kalap karena melihat tangan Humey yang lebam," ujar Eyman menyesal.Zayyan membalas dengan senyum teduh. "Iya, Bang. Aku pun minta maaf karena sempat pergi begitu saja, membawa humey" jawabnya tenang.Melihat sandiwara itu, dada Humey berdesir nyeri. Ia ingin sekali berteriak mengungkapkan kebejatan pria di depannya.Namun, nyalinya menciut saat tatapan Zayyan beralih padanya. Ancaman dingin di mata itu membungkam suaranya.Humey mematung di ambang pintu. Ia merasa seperti burung bersayap patah di sangkar emas.Zayyan begitu sempurna dalam peran suami yang baik. Sementara Humey, ia hanya bisa memeluk traumanya sendiri.Ia menunduk, menyembunyikan air mata. Ia kini hanyalah tawanan di rumahnya sendiri.Ke
Bu Nadia memecah keheningan dengan tawa kecil yang terdengar ganjil."Sudahlah, jangan bahas dapur terus. Eyman baru saja sampai, sebaiknya kita segera makan malam. Humey, siapkan Lamb Chop-nya di meja makan sekarang," perintah Bu Nadia lembut.Namun, matanya menatap Humey dengan peringatan yang tak terbaca.Humey mengangguk pelan. "Baik, Ma."Langkahnya terasa sangat berat saat berbalik menuju dapur.Ia merasa punggungnya seolah ditembus oleh tatapan tajam Eyman yang tak kunjung lepas.Di meja makan, Zayyan duduk dengan sombong di samping Humey.Di bawah meja, jemari Zayyan merayap ke paha istrinya. Ia mencengkeram kulit Humey dengan kuku yang menekan dalam.Rasa nyeri menyengat, namun Humey hanya bisa meringis dalam diam."Jangan berani menatapnya lagi," bisik Zayyan sangat pelan."Satu lirikan saja, aku pastikan malam ini akan menjadi malam terpanjang dalam hidupmu. Kamu tidak akan bisa keluar dari kamar untuk beberapa hari ke depan."Humey menunduk dalam, menyembunyikan kehancuran
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.