Pesugihan Kandang Bubrah
Dinding-dindingnya ditumbuhi lumut, dan pintu kayunya terbuka lebar, seolah-olah mengundang mereka masuk.
Dimas berhenti di depan bangunan itu dan menoleh ke Arif. “Masuklah. Jawaban yang kau cari ada di dalam.”
Arif menggeleng, langkahnya mundur perlahan. “Tidak… aku tidak mau masuk ke sana.”
Dimas tersenyum tipis, senyum yang tidak wajar, lalu berkata, “Kau tidak punya pilihan, Arif. Ini adalah takdirmu.”