Bidak Catur Sang Adik
Di dalam apartemen yang sedang mati lampu, pacarku, si Jason berlutut di depanku.
Tangannya yang biasanya selalu kasar itu, saat ini malah bergerak perlahan, seolah membawa kobaran api yang menjalar perlahan-lahan ke tubuhku.
Di bawah belaiannya, tubuhku bergetar perlahan-lahan dan tanpa sadar mengeluarkan isakan pelan yang terdengar memohon.
Hingga saat gairah itu hampir mencapai puncaknya, dalam kondisi setengah sadar, aku mengangkat kedua lenganku.
Aku memeluk erat leher pria itu.
Namun, jariku tak sengaja menyentuh sebuah tahi lalat kecil yang agak menonjol di bahunya.
Seketika, seluruh tubuhku membeku, rasanya seperti disiram seember air es.
Tidak ada tahi lalat itu di bahu Jason!
Seolah menyadari keanehanku, pria itu menundukkan badannya, lalu hembusan napasnya yang panas menerpa daun telingaku.
“Kok berhenti? Kakak ipar….”
….