Istriku, Aku Benar-Benar Menyesal
Di perjalanan pulang, ia melirik sahabatnya yang tertidur dengan posisi yang tidak nyaman, wajahnya penuh dengan kepedihan bahkan dalam keadaan mabuk.
“Pras, kau menghancurkan dirimu sendiri,” gumam Akbar pelan, suaranya penuh rasa iba. “Kapan kau akan sadar bahwa Nathalia membutuhkanmu, bukan kehancuran ini?”
Namun, Prasetyo hanya menggumamkan nama Nathalia dalam tidurnya, membuktikan bahwa rasa bersalah itu telah menguasai setiap sudut pikirannya. Di rumah, Nathalia duduk di depan jendela, memandang ke luar dengan tatapan kosong, berharap ada sesuatu yang bisa membawa Prasetyo kembali kepadanya. Namun, malam-malam itu hanya diisi dengan keheningan dan kerinduan yang tak terucapkan.
Bab Populer