Budak Kesayangan Sang Tiran
“Kau juga ada di sana. Kau melihat kegelapan yang sama. Menurutmu, apa itu?”
Lysandra, yang berdiri dengan tenang dengan gaun baru yang sederhana namun elegan—bukan sutra para bangsawan, tetapi kain berkualitas tinggi yang menandakan status khusus—mengangkat kepalanya. Dia tidak melihat si penipu. Dia menatap Xylas, seolah-olah hanya dia yang ada di ruangan itu. “Yang Mulia, kegelapan yang saya lihat memiliki bentuk. Mereka adalah mayat yang seharusnya beristirahat, dibangkitkan oleh kehendak asing. Mereka tidak menyerang secara acak. Mereka dipimpin oleh seseorang.” Suaranya lembut dan percaya diri.