Kusiapkan Perpisahan Terindah
Udara di kabin terasa lebih sempit dari biasanya, seolah segala yang kulihat barusan masih menempel di kulitku.
Perlahan, mobil melaju. Kutelusuri jalanan malam yang lengang, lampu kota berkelebat cepat di kaca jendela. Pikiranku sibuk, tapi jemariku sudah otomatis menekan nomor di layar ponsel. Hanya satu orang yang bisa kujadikan pegangan saat ini.
“Selina,” panggilku saat panggilan tersambung.
Suara lembutnya terdengar, meski sedikit berdesis karena sinyal. “Ya, Bu Dinara?”
Bab Populer