Malam Pertama Sang Istri Kontrak
Ia mengusap air matanya dengan kasar, lalu berkata lantang meski suaranya serak, “Tidak. Aku tidak boleh menyerah. Rindu ini harus jadi senjata. Besok aku akan bicara, bukan hanya untukmu, tapi untuk semua orang yang mereka bisukan. Untuk semua yang mereka hancurkan.”
Ia mengambil spidol merah, menambahkan garis baru di papan, lalu menuliskan kalimat besar di atas semuanya: “Tidak Ada Jalan Mundur.” Tangannya gemetar, tapi hatinya mantap. Halusinasi Arga masih ada di sudut matanya, senyum itu tidak hilang. Aisyah menarik napas panjang, lalu kembali duduk, menatap catatan pidato sekali lagi. “Aku akan menjemputmu, Arga. Tunggu aku. Aku akan buktikan bahwa rindu ini bukan kelemahan, tapi kekua
Bab Populer