DIMADU TANPA RESTU
“Seperti biasa, dia bilang dinas luar kota selama tiga minggu. Aku menunggunya pulang. Tapi kali ini... dia pulang dengan wanita lain. Katanya, itu istrinya. Kamu tahu rasanya, Van? Rasanya seperti... dihujam pisau tepat di dada. Aku berusaha tegar. Tapi dia membawanya ke rumah kami. Wanita itu tidak mau pergi, dan Mas Wira membiarkannya.”
Air mata Sekar mulai mengalir lagi.
“Tadi, aku pulang dari pengajian di sekolah. Aku sengaja mampir beli martabak manis, makanan favorit Mas Wira. Aku pikir... mungkin bisa ambil hatinya. Tapi...” suara Sekar tercekat. Ia menyembunyikan wajahnya di kedua tangannya, lalu tangisnya pecah.
Sikat na Kabanata