Pelukan Terlarang
Lelaki itu selalu punya cara membuat suasana sedikit lebih ringan, meski beban di pundak Hana begitu berat.
Tak lama, Adrian kembali dengan dua gelas plastik berisi air mineral. Ia meletakkan satu di samping laptop Hana. “Minum dulu.”
“Terima kasih,” ucap Hana lirih. Ia meneguk air itu perlahan, merasakan dinginnya mengalir di tenggorokan.
Ketika kembali menaruh gelas di meja, Hana melihat sesuatu yang berbeda. Di sisi keyboard, ada sebuah kertas kecil terlipat rapi.
Hot Chapters