Mereka Pilih Adiku Jadi Pengantin
Sejak kecil, adikku, Nina Basuki, selalu jadi anak yang paling disayangi oleh keluargaku.
Dia dapatkan kamar terbaik, gaun-gaun tercantik, permintaan maaf yang selalu datang lebih dulu, serta setiap kelembutan yang dimiliki kedua orang tuaku. Sementara aku, sebagai anak sulung, selalu diharapkan untuk ngalah.
Lalu aku bertemu Hendri Darmawan.
Pada malam saat dia melamarku, dia genggam tanganku erat-erat dan janji akan cintai aku seumur hidup. Untuk pertama kalinya, aku merasa akhirnya ada seseorang yang benar-benar pilih aku.
Aku pikir, akhirnya aku temukan cinta sejati. Sampai hari ketika aku coba gaun pengantinku. Nina bilang mau temani aku pilih gaun. Namun saat aku keluar dari ruang ganti, aku lihat dia berdiri tepat di hadapan Hendri, rapikan dasinya dengan begitu akrab, seolah-olah dialah calon pengantin wanita.
Aku hendak bilang, "Biar aku saja yang lakukan itu."
Namun penata busana sudah lebih dulu hampiri Nina sambil tersenyum.
"Pengantin wanita, silakan ke sini."
Hari itu fotografer ambil sembilan puluh sembilan foto. Setiap foto hanya berisi adikku dan tunanganku. Nggak ada satu pun yang tampilkan diriku, pengantin yang sebenarnya.
Ibuku yang duduk di sofa tersenyum hangat.
"Nina cantik sekali waktu pakai gaun putih."
Ayah mengangguk setuju.
"Dia lebih terlihat kayak pengantinnya dibanding Julia."
Kemudian fotografer angkat kameranya dan lirik aku dari balik lensa.
"Nona, bisa geser sedikit? Kamu halangi cahayanya."
Aku melangkah ke samping tanpa sepatah kata pun, lalu berdiri bersandar di dinding. Pada saat itulah aku akhirnya ngerti. Pernikahan ini nggak pernah benar-benar butuhkan aku.
Dan jika cinta yang dulu Hendri janjikan ke aku bisa dengan begitu mudah diberikan ke orang lain, maka pergi adalah satu-satunya harga diri yang masih tersisa untuk aku pertahankan.