Cinta Pertama Mas Ali
Bangku hijau agak panjang ini mengingatkan kami pada peristiwa beberapa waktu lalu, saat aku pertama kali melamarnya.
"Kenapa kita di sini, sih, Mas?" Masih saja memasang wajah malas.
"Yu, bukalah hatimu. Cobalah menerima takdir ini. Aku masih mencintaimu."
Duduk berdua sambil menatapnya, rasanya seperti dunia hanya milik berdua. "Jangan mulai lagi. Aku lagi pusing."
"Tatap mataku!"
Benar saja, dia mengikuti permintaanku. "Maukah kamu menerima pinanganku lagi nanti?"