Di Antara Dua (Istri)
ujarku sambil berusaha menahan lelehan bening yang kini menganak sungai di bola mataku, aku ingin sekali tidak menangis agar tidak dipermalukan di hadapan mereka semua, tapi kalau sudah menyangkut tentang anak, aku benar-benar tidak kuasa dengan perasaan emosional ini.
"Aku tidak pernah merendahkanmu tapi kaulah yang menyebut dirimu miskin, sebenarnya miskin itu hanya tentang pola pikir saja dan karena kau memaksa mindset itu, maka aku akan membenarkannya, kau memang miskin mental dan akhlak."
Masya Allah, betapa lucu ucapannya.
Aku memang terus bersikap rendah hati di hadapan mereka semua tapi nenek terus merendahkan diriku dengan kalimat manipulatif, aku benar-benar dihinakan ke dasar yang