Melawan Suami dan Mertua
Nyatanya Mas Rauf sehat wal afiat dan memiliki usaha.
“Lanjut,” kata dr. Vadi menyuruhku untuk melanjutkan cerita. Padahal rasanya aku sudah muak untuk membahasnya lagi. Rasa sesak dalam dada lebih-lebih membuatku ingin menangis.
“Mertua terus-terusan minta uang untuk berbagai kebutuhan. Puncaknya kemarin sore saat kami mau memasak bersama. Beliau minta satu juta untuk membayar cicilan motor adik iparku, padahal uang di dompet tinggal dua ratus ribu. Ya, aku marah, Dok. Eh, M-mas ....” Aku menutup bibirku dengan jemari, kemudian menatap dr. Vadi sembari mengangguk tanda minta maaf karena keceplosan memanggil dokter.
Bab Populer