Di Ujung Senja
Edo merasakan matanya memerah, di bawah meja, Arra mengelus pahanya dengan begitu lembut, tujuannya sih untuk menenangkan Edo, bukan untuk yang lain-lain.
“Hidupnya lebih keras dari apa yang ada dalam bayanganmu, Do.” guman Adnan getir, haruskah ia menceritakan semua perjalanan hidup Redita? Dan kalaupun Adnan ceritakan, apakah si sulungnya itu akan percaya?