TAKLUK DI PELUKANNYA
dia datang sendirian, hanya membawa ponsel burner, flashdisk duplikat, dan sebuah pisau lipat kecil di dalam sepatu.
lantai 31 sepi. lampunya remang, hanya satu koridor panjang menuju ruang privat paling ujung.
ketika auryn masuk, dia langsung melihat sosok wanita paruh baya dengan rambut perak yang disanggul rapi. matanya tajam. bibirnya merah tua. dan di meja di hadapannya sudah tersedia dua gelas wine merah.
“auryn vale,” sapa rosa. “akhirnya kita bertemu, bukan sebagai bayangan, tapi sebagai calon ratu dalam catur berdarah ini.”
Bab Populer