Red Clock
Meihat pria tampan mengayunkan tangannya di udara tipis dan menjathkan orang itu hingga babak belur, orang-orang tadi tidak berani mentap pria tampan itu.
“Singkirkan mereka semua, jangan sampai aku melihat mereka lagi.” Iris mata merahnya menyala, sebuah emosi kejam haus akan darah menakuti orang-orang disekitarnya, dan teriakan-teriakan momohon ampunan mengoyak telinga siapapun yang mendengarnya. Tetapi pria tampan itu hanya tersenyum kotor menikmati itu semua. Tangannya menyelinap menyentuh cicin yang ada di jari manisnya. Perlahan senyuman kejam tergantikan dengan kelembutan, mata merah itu memudar dan menampilkan mata indah seperti lautan.
Chapitres populaires