REINKARNASI SANG PUTRA SURGAWI
KEZHIA ZHOUmata seperti ada kilatan cahayaom om apa yang pagi siang malam ke lautcerpen ketika laut marahtangisan laut berdarah
Lucan mengikuti.
Mereka turun. Hiruk-pikuk kota menyambut—klakson, langkah tergesa, percakapan yang bertumpuk. Lucan menatap sekeliling, matanya menyerap segalanya: papan iklan tinggi, bangunan berlapis kaca, manusia yang bergerak cepat seolah dikejar waktu.
“Ini di mana?” tanyanya pada Seira.
“Ini di Seoul. Kau tidak tahu?” Seira menatapnya setengah mengejek.