Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Betrayal

Betrayal

Semoga saja tidak pernah ***. Victor berjalan dengan tenang melewati lobby gedung perusahaannya. Walaupun Victor tidak menunjukkan ekspresi apapun, aura yang melingkupinya tetap hitam. Bahkan, seketika lobby menjadi sunyi begitu Victor memasukinya. Para staf hanya berada menundukkan kepalanya, terlalu segan untuk menyapa Victor. Menurut para karyawan, Victor hanya memiliki tiga ekspresi, yaitu santai, dingin, dan tanpa ekspresi—walaupun tanpa ekspresi harusnya tidak termasuk dalam ekspresi, namun bagi Victor, tanpa ekspresi merupakan sebuah ekspresi. Dari ketiga ekspresi tersebut, yang paling menyeramkan adalah wajah tanpa ekspresinya.
106.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 227 kali sebagai tabú
Baca
+Pustaka
Complicated

Complicated

Bahkan, menyipitkan mata sembari menunggu jawaban dari Raska. Raska mengerutkan kening. “Phobia apa? Aku tidak merasa memiliki phobia apapun.” Satu tangannya tergerak cepat untuk menonaktifkan laptop dan bersedekap dada. Bahkan, semakin bingung dengan pertanyaan Zian—menurutnya aneh. Zian mencebik kesal. “Nggak inget kah? Gelagatmu dulu kaya phobia, bila dideketin kabur!”
106.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 223 kali sebagai tabú
Baca
+Pustaka
Complicated

Complicated

Agatha tersenyum dengan paksa. "Kenapa kamu harus menjauhi mereka??" Tara bertanya sambil kembali mengelus puncak kepala Agatha dengan sayang. "Emm ... Aku gak nyaman aja. Dan aku pernah denger Keyna marah sama Yoga, dan minta Yoga jauhin aku. Memang begitukan kalau pacaran?? Dan aku harus melakukan hal yang sama seperti Yoga, menjauhinya." Jelas Agatha. 0o0o0o0o0
2.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 59 kali sebagai tabú
Baca
+Pustaka
RETAK

RETAK

Lalu Sebastian pamit setelah menaruh lima lembar uang merah di atas meja. Vitaloka menatap punggung atletis Sebastian yang menjauh hingga keluar dari kafe. Membuka layar gawai, menatap foto yang tadi dia kirim. Entah mengapa gaya rambut dan warna rambut perempuan itu sangat mirip dengan orang yang selalu memberi kata-kata semangat dan ucapan berupa godaan untuknya serta Sebastian. "Kenapa aku merasa perempuan ini mirip dengan Nesya adikku?"
103.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 71 kali sebagai tabú
Baca
+Pustaka
BUKU TERLARANG

BUKU TERLARANG

setiap titik merah mewakili satu pemilik buku terlarang. > “dari yang kami lacak, buku itu muncul pertama kali seratus tahun lalu. setiap generasi punya pemilik utama—dan lo, riven, adalah ‘the final scribe’.” > “final scribe?” bisik riven. > “pemegang terakhir, penentu akhir cerita. bukan cuma lo bisa baca dan masuk ke dalam buku… lo juga bisa hapus isi cerita orang lain.”
1.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 37 kali sebagai tabú
Baca
+Pustaka
Tabib Sakti Tak Terkalahkan

Tabib Sakti Tak Terkalahkan

Adapun Shizi melakukan hal itu untuk menyamarkan kesalahan yang mereka buat karena salah dalam diagnosa awal. Ia pun lanjut berkata.” Teknik akupuntur pengumpul energi yang tabib berdua gunakan itu selain memunculkan kelainan pada tubuh nona Dishi juga memunculkan busa di mulutnya, jelas hal ini membuat jelas jika tubuh nona ini keracunan.” “ Tabib berdua benar benar hebat menggunakan teknik itu untuk mengetahui hal ini!” Seru Shizi sambil menangkupkan tangannya sebagai tanda ucapan selamat.
9.4162.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 5.7K kali sebagai tabú
Tampilkan Ulasan (28)
Baca
+Pustaka
Pok Jang
Numpang promosi thor! Tiga Mayat Satu Takdir ~ "Dalam dunia di mana kebajikan adalah topeng, seorang pemuda bertaruh segalanya demi cinta dan keluarga." "Ketika sihir terlarang menjadi satu-satunya pilihan, bagaimana kebaikan bisa bertahan?"
Mr. Mystery
Izin Promosi Thor Bagi kalian yang suka membaca kultivator yang benar-benar realistis, dimulai dari manusia biasa/fana yang menjadi legenda. Tanpa embel-embel keluarga/klan atau pelindung di belakangnya... Yuk baca "Benih Dao Kekacauan" 🫡🫡
Baca Semua Ulasan
Tangisku

Tangisku

Dia tersenyum sumringah kepadaku, Tata ia berhenti di hadapanku. “Aku belum baca diary kamu.” Gumamnya tersenyum. “Tadi malam kamu kemana aja, aku cariin gak ada. Apa kamu lupa kalo janji kita baca diary aku pada malam terakhir ujian. Kenapa kamu lupa?” Gumamku yang menatap tajam kedua manik mata Tata. “Aku bukannya lupa, tapi ada urusan penting yang harus aku selesain.” Gumam Tata merasa bersalah.
2.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 86 kali sebagai tabú
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status