Tumbal Purnama
Tangannya yang mungil terulur ke arah mereka, sementara di belakangnya, bayangan hitam besar berdiri, tak bergerak, tak bernapas, hanya menatap mereka dengan mata kosong yang bersinar merah.
“Tumbal,” suara itu menggema, tak berasal dari mulut siapapun. “Kau tak bisa lari.”
Lila duduk di lantai, tubuhnya menggigil memeluk selimut basah yang masih meneteskan darah. Bima mondar-mandir di ruang tamu, mencoba berpikir jernih meski pikirannya terus dihantui suara-suara dari gudang.
Bab Populer