TWELVE
Evia Nuraviantitiba tiba terbangun dan jantung berdebartelinga seperti ada suara angindetak jantung seperti tersentakkenapa telinga berdetak seperti jantung
Lelaki itu arrghht membuat aku sangat bersalah pada ismi.
“Fidela, mau kemana? Bayangan hitam itu belum muncul, Fidela, Fidela.” Aku terus melangkah menuruni tanjakan beraspal tanpa menghiraukan panggilannya. Saat ini serba salah apa aku marah atau menangis azka menambah kekalutanku dengan kesalah pahaman ini. Terdengar petir mengelegar bersamaan dengan turunnya hujan. Aku sama sekali tidak memikirkan untuk membuka payung yang telah tersedia di dalam tas. Biarkan hujan membasahi seluruh tubuhku dengan begitu hati dan otakku akan dingin. Jikalau bisa aku ingin rintik hujan yang membasahi tubuhku dapat menghapus rasa bersalah yang aku perbuat pada Ismi.
******
Beliebte Kapitel