My Dearest Cahaya
Tidak melakukan apapun selain beradu pandang dengan sengit.
“Dengar, Sa—”
“Gak!” potong Asa tajam. “Lo, yang harus dengar. Kalau anak lo, sampai gak terlahir di dunia ini, ingat kata gue,” seringai yang disematkan Asa begitu dingin. “Itu semua, SALAH LO!”
Asa mendorong kasar tubuh Yasa, kemudian mengusap kerah jasnya dengan punggung jari berkali-kali. Seolah-olah, banyak debu dan kotoran yang baru saja tersampir di sana.
Bab Populer